Setiap hari Selasa, aku punya rutinitas untuk mengikuti rapat hamba Tuhan di gereja. Seperti biasa, momen ini aku gunakan untuk naik bus Trans Manado ke gereja. Sebagai pecinta transportasi umum, momen ini aku gunakan juga untuk healing.
Hari Selasa, 28 Juli 2026 aku melakukan rutinitas ini seperti biasa. Bus Trans Manado berjalan dan berhenti seperti biasa. Di saat yang bersamaan, aku mendengarkan musik dari ponsel Zenfone 10-ku. Semua damai dan tenang.
Sampai akhirnya bus yang aku naiki berhenti di salah satu bus stop. Setelah menurunkan penumpang dan hendak berjalan kembali, bus melakukan “REM MENDADAK”! Aku kaget luar biasa. Sungguh kaget luar biasa! Ternyata ada angkot yang memotong jalur bus yang aku naiki. Sopir bus refleks melakukan rem mendadak dan membuat aku terlempar cukup jauh di dalam bus.
Setelah kejadian itu, aku freeze cukup lama. Pengalaman ini sungguh tidak nyata. Aku bersyukur tidak terjadi kecelakaan dan aku baik-baik saja. Namun, kejadian ini benar-benar menakutkan. Setelah melalui fase freeze itu, aku berefleksi satu hal: menyadari betapa rapuhnya hidup manusia.
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Yakobus 4:14
Rapuh adalah satu kata yang aku renungkan. Hidup manusia bisa secepat itu hilang hanya melalui kejadian singkat, yaitu kecelakaan. Sekali lagi, aku bersyukur Tuhan menyelamatkan aku dari kecelakaan hari ini. Namun, kejadian ini tetap punya makna mendalam, Tuhan sepertinya ingin mengajarkan aku lebih lanjut lagi.
Akhir-akhir ini aku sedang mengejar banyak hal dari berbagai rencana yang aku buat. Satu kejadian rem mendadak ini membuat aku sadar, semuanya bisa hilang kapan saja. Kalau semua bisa hilang, untuk apa aku kejar itu semua begitu rupa di dunia yang sementara ini? Dari pengalaman ini aku menyadari dua hal yang bisa aku refleksikan.
Kenapa hidup yang tidak dikontrol oleh diri sendiri ini merupakan kabar bahagia
Rem mendadak yang aku alami di bus Trans Manado mengajarkan aku betapa hidup bukan milikku sendiri. Aku dapat kehilangan hidup ini kapan saja. Sebanyak apapun pencapaian atau hartaku, semua bisa hilang dalam hitungan detik.
Jika hidup ini bukan milikku, lalu milik siapa? Kenyataan bahwa aku masih bisa selamat menunjukkan kepadaku Pribadi yang lebih besar dari diriku sendiri. Aku percaya Dia adalah Allah Tritunggal yang mengontrol jalan hidupku dan mengasihi aku.
Realitas iman bahwa Allah memegang hidupku menyadarkan aku betapa lebih aman dan menyenangkan menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini. Aku tidak sendirian. Hidupku dipegang oleh Sang Pencipta alam semesta. Dia jauh lebih paham dan mampu mengontrol hidupku ini, daripada aku mengontrol hidupku sendiri.
Memang tidak dipungkiri bahwa hidup manusia sangat rapuh. Namun, puji Tuhan! Kerapuhan hidup itu direngkuh oleh Sang Khalik yang menjelma menjadi manusia rapuh. Dialah Kristus, Allahku yang mencintai aku! Aku bisa aman dalam pelukannya. Bagaimana denganmu?
Sadarilah betapa rapuhnya hidupmu. Jangan andalkan uangmu, tenagamu, atau kepandaianmu. Belajarlah berserah kepada Allah yang jauh lebih mampu menjaga hidupmu. Di dalam pelukan-Nya, belajarlah untuk tenang.
Melayani Tuhan jauh lebih bahagia daripada mengumpulkan harta dunia
Kesementaraan hidup membuatku berefleksi satu hal lain: perihal mengumpulkan harta di dunia. Matius 6:20 menuliskan, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”
Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Galatia 2:20
Ayat ini mengingatkanku bahwa kehidupanku di dunia seharusnya difokuskan untuk hal-hal yang bersifat kekal di surga. Di dunia ini, harta bisa lenyap begitu saja. Di surga, harta bersifat kekal. Maka, biarlah hati dan pikiranku lebih berfokus untuk mengerjakan pekerjaan baik di dunia hari demi hari.
Rem mendadak mengajarkan aku bahwa waktu hidup terbatas, kesempatan tidak datang kedua kali, maka gunakanlah setiap waktu untuk memuliakan Allah dalam hidup ini. Demikian refleksiku di hari ini. Kiranya bisa memberkati kalian ya!