“Aku ga butuh orang lain! Aku independen!” adalah omong kosong

Independensi dan jebakan anti-sosial
Mulai

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata “independen”? Independen, menurut KBBI, adalah “yang berdiri sendiri; yang berjiwa bebas” atau “tidak terikat; merdeka; bebas.” Bagiku, independen berkaitan dengan kemandirian. Tidak ada yang salah dengan istilah dan sifat mandiri. Namun, yang perlu diperhatikan adalah tendensi yang keliru dalam memaknai kata ini.

Era kekinian sekarang sepertinya menekankan independensi yang ekstrem. Seseorang dianggap “mandiri” ketika bebas dari pengaruh orang lain sama sekali. Tidak mau menerima pertolongan, gengsi untuk meminta bantuan, atau melakukan segala sesuatu sendirian dapat disebut sebagai ciri-ciri orang yang “independen.”

Istilah “wanita independen” juga muncul untuk menggambarkan seorang wanita idaman karena mampu melakukan segala sesuatu terlepas dari bantuan orang di sekitarnya, khususnya laki-laki.

“Aku ga butuh orang lain! Aku independen!” adalah omong kosong Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT

Jebakan anti-sosial

Pertama-tama perlu dipahami menjadi independen (mandiri) bukanlah sesuatu yang salah. Toh, menjadi mandiri bukanlah sesuatu yang salah. Kita perlu “bebas” dari pemeliharaan orang tua secara langsung jika mau kuliah di luar kota kan? Tanpa kemandirian, sepertinya akan sulit bagi kita untuk kuliah di luar kota, mencari pekerjaan, dsb.

Kemandirian atau independensi akan menjadi salah ketika kita melihatnya sebagai sesuatu yang ekstrem. Akibatnya, kita tidak lagi membuka ruang untuk kehadiran orang lain di dalam kehidupan kita.

Ketika kita benar-benar terpisah dari orang lain maka kita bisa menganggap menerima bantuan dari orang lain sebagai bentuk kelemahan yang harus dihindari. Atas nama “independen” kita menolak meminta atau menerima bantuan dari orang lain. Alih-alih menjadi mandiri, kita malah menjadi ansos atau anti-sosial.

Anti-sosial inilah yang menjadi sesuatu yang keliru. Sebagai seorang Kristen, aku pikir Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi anti-sosial. Seorang Kristen dipanggil Tuhan di dalam sebuah konteks komunitas, yang disebut gereja atau umat pilihan Tuhan.

Kita tidak dipanggil oleh Tuhan dalam sebuah keterisolasian yang bersifat individualistik. Allah menghendaki orang Kristen ada dalam sebuah komunitas tubuh Kristus yang mengasihi satu sama lain.

Jika independensi dipahami sebagai independensi yang tidak membuka ruang untuk orang lain, maka komunitas tubuh Kristus akan kehilangan tempat di dalam kehidupan orang percaya. 

Kita akan menolak saudara seiman kita demi mempertahankan “independendsi” (baca: gengsi) kita. Meminta bantuan atau menerima bantuan menjadi sesuatu yang sangat dihindari karena dianggap sebagai bentuk kelemahan. 

“Masa kayak gini doang aku butuh bantuan orang lain sih! Aku bisa sendiri kok!” Ini tentu hal yang keliru guys! Efesus 4:2 malah mengajarkan sebaliknya kepada kita, bahwa sebagai sesama anggota tubuh Kristus kita harus saling membantu sama lain.

Kita tidak pernah dipanggil oleh Tuhan dalam sebuah keterisolasian yang bersifat individualistik. Allah menghendaki orang Kristen ada dalam sebuah komunitas tubuh Kristus yang mengasihi
satu sama lain.

Membuka diri untuk ditolong orang lain bukanlah bentuk kelemahan. Malahan orang yang menutup diri adalah orang yang menyiksa dirinya sendiri. Orang yang demikian melawan naturnya sebagai makhluk sosial. 

Lebih dalam lagi, orang Kristen yang menolak bantuan orang lain demi independensi, melawan baik naturnya sebagai makhluk sosial dan perintah Tuhan untuk saling membantu satu sama lain. 

“Aku ga butuh orang lain! Aku independen!” adalah omong kosong Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Teman-teman adalah contoh "orang lain" yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita

Namun, ingat bahwa ini semua bukan membuat kita menjadi seseorang yang clingy atau terlalu bergantung kepada orang lain. Sikap yang demikian tentu akan membuat kita menjadi seorang yang malas. Hal ini ditentang juga di dalam Alkitab. 

2 Tesalonika 3:10 mengatakan kalau seseorang tidak mau bekerja, ia jangan makan. Artinya kemalasan (dalam kedok “bergantung dengan orang lain”) tentu adalah hal yang salah.

Kerja bakti dan independensi

Untuk menutup tulisan ini, aku teringat dengan pengalamanku kerja bakti di SAAT. Hidup dalam komunitas yang beragam, membuatku harus mengakui bahwa tidak semua orang di sini adalah orang yang dapat aku terima keberadaannya. Aku tidak naif, ada orang-orang yang emang ngeselin.

Namun, Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa orang yang paling ngeselin bagiku malah menjadi seseorang yang paling aku butuhkan di dalam sebuah kerja bakti. Tanpa dia, kerjaan akan semakin sulit dan aku sadar bahwa aku tidak mungkin menyelesaikannya sendirian.

Pagi itu aku sadar bahwa sehebat-hebatnya diriku, tidak akan pernah Tuhan menjauhkanku dari komunitas. Aku sangat bersyukur Tuhan menunjukkan hal itu kepadaku. Aku perlu hidup bergantung dengan yang lain, sekalipun mungkin itu berkaitan dengan orang yang tidak aku sukai.

Malahan lewat momen itu, aku semakin belajar untuk menerima kehadiran orang-orang yang ngeselin dalam hidupku ini. Mereka adalah orang-orang yang Tuhan hadirkan bagiku untuk menolong hidupku dan aku harap di kemudian hari aku bisa menolong mereka juga.

Hidup bergantung kepada orang lain bukanlah sesuatu yang salah. Kita tidak perlu berhenti menjadi “manusia” demi menjadi independen. Jika independen mengorbankan natur aku sebagai makhluk sosial, maka lebih baik bagiku untuk tetap menjadi manusia. Tugas kita sekarang adalah menyeimbangkan antara hidup bergantung dengan orang lain dan hidup mandiri.

Jika keduanya bisa kita seimbangkan dalam kehidupan kita, maka kita bisa dikatakan menjalani kehidupan Kristen yang sehat. Nah, biasanya untuk menjadi seimbang seperti ini sangat sulit. Kita biasanya jatuh di antara ekstrem yang satu atau yang lainnya. Di sinilah kita sadar bahwa kita tidak bisa melakukannya di luar pertolongan Tuhan. So, pertanyaannya, udah doa belum hari ini?

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

4.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments