Gideon: Iman atau Ketakutan?

Bulu domba vs. Anak Domba

Gideon: Beriman atau "beriman"?

Ini adalah tugas saya di STT SAAT untuk mata kuliah Perjanjian Lama II. Tugas ini adalah buat renungan, jadi sekalian aja saya post di sini…

Dalam kehidupan kita, berapa banyak kali kita mengadakan pemeriksaan mendalam terhadap benda yang kita pakai? Misalnya ketika kita duduk, apakah kita mengadakan pemeriksaan detil terhadap kursi yang kita pakai? Apakah kita akan menguji kekuatan bahannya di laboratorium sebelum duduk? Adakah keraguan yang begitu besar di dalam pikiran kita sebelum duduk di sebuah kursi? Menurut saya, tidak. Begitu juga dengan sendok garpu yang kita pakai. Apakah kita akan menguji kekuatan garpu untuk mengangkat gulungan Indomie yang kita buat? Atau ketika kita memakai sendok, apakah kita akan menguji berapa butir nasi yang bisa diangkat oleh sendok itu? Jangan-jangan nanti patah! Saya rasa tidaklah demikian juga. Ketika kita bahkan bisa “berserah” pada benda-benda seperti itu, ada seseorang yang tidak bisa percaya kepada Pencipta alam semesta. Siapakah dia?

Lanjut

Gideon: Siapakah dia?

Jika ada Alkitab di dekat saudara, coba buka dan baca sebentar mengenai Gideon. Buka di Hakim-Hakim 6:33-40. Saudara bisa membacanya sendiri. Ketika selesai membaca itu, cobalah jawab pertanyaan saya ini: “Apa yang saudara pikirkan tentang Gideon?”. Tenanglah dan coba jawab secara jujur. Biarkan saya menebak jawaban saudara: “Sebuah sikap yang baik yang sudah ditunjukkan Gideon. Sebuah sikap menguji kebenaran panggilan Tuhan. Gideon memberi teladan yang baik dalam menguji segala panggilan yang ada, apa itu benar atau tidak”. Jawaban seperti ini adalah jamak. Dalam hemat saya, jawaban ini salah besar. Mari kita lihat bersama.

Ketika kita bahkan bisa "berserah" pada benda-benda seperti itu, ada seseorang yang tidak bisa percaya kepada Pencipta alam semesta.

Roh TUHAN dan Gideon.

Apa yang dilakukan Gideon memang tampaknya benar dan beriman. Apalagi ada keterangan “Roh TUHAN menguasai Gideon” di ayat 33 pasal 6. Ini seperti sebuah legitimasi akan apa yang dilakukan Gideon. Tapi mari kita lihat lebih lanjut mengenai teks ini. Saya akan membagi tulisan ini dalam dua bagian. Yang pertama, saya akan memberikan alasan mengapa tindakan Gideon di sini tidak bisa dibenarkan dan yang kedua adalah makna apa yang dapat kita ambil dari teks yang kita baca hari ini.

BAGIAN 1

Apa benar Gideon "beriman"?

Yang pertama kita akan melihat apakah benar tindakan Gideon ini bisa dibenarkan. Sebelumnya, saya akan membahas konteks historis dari teks ini. Pada masa itu, orang Israel sedang dalam kondisi dihukum lewat penjajahan orang Midian akibat dosa mereka. Orang Israel sangat menderita akibat tekanan dari orang Midian ini (Hak. 6:1-6). Dalam konteks inilah Gideon dipanggil Tuhan untuk membebaskan Israel dari tangan orang Midian karena orang Israel berseru kepada Tuhan (Hak. 6:7). Dalam panggilan untuk membebaskan inilah, tanda bulu domba yang kita baca hari ini berada.

Jika kita membaca keseluruhan kisah Gideon, maka tanda bulu domba yang kita baca hari ini bukanlah tanda yang pertama. Dalam pasal 6 ayat 17 Gideon juga meminta tanda dari Tuhan dan Tuhan memenuhi tanda itu. Barulah di teks yang kita baca ini, Gideon meminta tanda lagi. Bukan hanya sekali tapi dua kali! Dengan mengetahui hal ini, kita bisa mengerti bahwa tanda yang bulu domba ini adalah tanda kedua dan ketiga. Total ada tiga tanda yang diminta Gideon sejak perintah dan janji Tuhan diberikan kepadanya. Bahkan Gideon sebenarnya sudah mengetahui janji Tuhan itu namun ia memilih untuk tidak percaya (ayat 36, “Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu…”). Apa saudara sudah melihat keanehannya?

Gideon tidak perlu tanda!

Gideon tidak perlu tanda! Bahkan tanda pertama pun, tidak perlu! Mengapa demikian? Perintah dan janji ini diberikan bukan oleh pribadi yang sembarangan melainkan Tuhan sendiri! Jika kita mau berkompromi, maka kita bisa memaklumi tanda pertama yang diminta Gideon. Namun bagaimana kita menjelaskan tanda kedua dan ketiga? Apakah ini bentuk keberimanan atau malah sebaliknya, sebuah ketidakpercayaan yang akut? Lebih lanjut, tanda pertama ternyata tidak memiliki pembenaran yang kuat karena ada satu argumen yang dapat menghancurkan permintaan tanda pertama ini. Apa itu? Tidak ada hakim yang diberikan tanda sebanyak yang diberikan kepada Gideon. Namun ironisnya, tidak ada juga yang seragu Gideon dengan tanda yang begitu melimpah ruah di hadapannya.

Lalu bagaimana dengan penjelasan Roh TUHAN yang disebutkan di pasal 6 ayat 33? Sebagai orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, Roh Kudus bisa berdiam dalam hati orang percaya. Namun pada zaman Perjanjian Lama, Roh TUHAN tidaklah demikian. Maksud dari ayat 33 bukan untuk menyatakan apa yang dilakukan Gideon adalah dari kehendak Roh. Melainkan keberadaan Roh TUHAN berarti bahwa Tuhan akan memakai Gideon sebagai alat-Nya untuk membebaskan Israel. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan spiritualitas Gideon sehingga apa yang ia lakukan setelahnya juga tidak bisa dikaitkan dengan kehadiran Roh TUHAN ini. Saya rasa saudara bisa menangkap poin saya.

BAGIAN 2

Mengenal Tuhan.

Masuk ke bagian kedua. Setelah mengetahui semua ini, apakah jawaban saudara di awal tetap sama tentang Gideon? Belajar dari Gideon, kita bisa melihat betapa ketidakpercayaan manusia sudah begitu berakar dalam hati manusia yang berdosa ini. Gideon takut, bahkan dia perlu tanda sampai tiga kali hanya untuk meyakinkan bahwa Tuhan menyertai Dia. Tuhan kita bukanlah patung yang tidak berkuasa. Tanpa bukti kita sudah bisa percaya karena Dia bukanlah Allah yang berdusta. Dia adalah pemilik alam semesta, dan tanpa Gideon, Dia bisa menyelamatkan Israel. Namun Tuhan mau menunjukkan kebesaran kasih dan kesabaran-Nya kepada manusia, termasuk Gideon yang tidak percaya ini.

Gideon secara literal sebenarnya tidak memanggil Tuhan, Allah Israel dengan nama perjanjian yaitu “Yahweh” namun dalam bahasa aslinya lebih kepada “Elohim” saja. Implikasi dari penggunaan kata ini menunjukkan Gideon tidak mengenal Allah Israel secara dalam. Kata Elohim sendiri adalah kata yang umum untuk menjelaskan “Tuhan”. Gideon gagal membedakan antara Tuhan, Allah Israel dan allah-allah lain. Ini adalah salah satu akar mengapa dia juga sulit untuk percaya kepada Tuhan. Bagaimana Dia akan percaya kepada seseorang yang ia bahkan tidak kenal?

Anak perempuan dan ayahnya.

Suatu saat ada kebakaran besar di sebuah apartemen bertingkat yang tinggi. Saat kebakaran itu, ada anak perempuan 14 tahun yang terjebak di kamar apartemen lantai 20. Satu-satunya jalan yang tersedia adalah jendela kamar apartemen itu. Pemadam kebakaran dan tim penyelamat sudah bersedia di bawah untuk menangkap anak itu dengan pengaman yang ada. Mereka berteriak kepada si anak itu “Ayo lompat saja, kami akan menangkapmu. Kamu tidak perlu takut. Kamu akan selamat!”. Beberapa kali mereka berteriak namun tidak ada hasilnya. Anak perempuan itu tidak berani melompat. Bayangkan saja lantai 20, sudah merinding saking tingginya. Sekarang malah disuruh melompat. Tapi tiba-tiba ada suara yang berbeda terdengar. Suara ini mengucapkan hal yang sama seperti sebelumnya. Beberapa menit kemudian anak itu ternyata sudah ada di bawah. Dia selamat karena mendengar suara itu. Suara siapakah itu?

Suara ayahnya. Ayah anak ini memiliki relasi yang erat dengan anak perempuannya. Anak ini pun tak segan-segan untuk percaya, segala ketakutannya lenyap karena dia mengenal ayahnya. Ilustrasi ini menggambarkan kita orang yang berdosa, saya dan saudara. Ketika kita tidak mengenal Tuhan kita maka akan sulit juga untuk percaya kepada-Nya. Bagaimana kita bisa mengenal-Nya? Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Injil. Lewat Injil kita bisa mengenal Tuhan kita. Apa yang dikatakan Injil?

Siapa Tuhan kita emang?

Injil mengatakan bahwa Kristus telah mati menebus dosa-dosa kita. Kristus yang adalah Tuhan memberikan nyawa-Nya bagi kita, menyelesaikan masalah terbesar manusia yaitu dosa dan kematian. Kita memiliki Tuhan yang mampu menyelesaikan masalah terbesar kita yaitu dosa. Kita memiliki Tuhan yang adalah kasih, Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang mengampuni dosa-dosa kita, Kristus Tuhan. Maka dari pengenalan ini, kita bisa beriman kepada Tuhan. Pengenalan yang benar ini memampukan kita untuk percaya pada Tuhan dalam segala keadaan bahkan ketika saat tersulit pun.

KESIMPULAN

Bulu Domba vs. Anak Domba

Bukti yang begitu nyata sudah ada di kayu salib. Itulah pengharapan kekal kita yang tak tergantikan oleh tanda apapun, bahkan tanda bulu domba Gideon. Iman kita tidak didasarkan pada bulu domba, melainkan Anak Domba yang menebus dosa-dosa kita. Jika Ia mampu menyelesaikan masalah terbesar kita maka Ia tidak kurang kuat untuk menolong kita dalam masalah-masalah kita. Di tengah pandemi COVID-19, taruhlah harapan kita pada Kristus, percayalah pada kuasa salib-Nya, dan beriman kepada-Nya dalam segala waktu hidup kita. Ketika kita ragu, datanglah dalam doa pada-Nya. Dia tidak akan membuang kita. Ketika kita putus asa, bacalah Alkitab dan temukan janji Allah di dalam-Nya. Ketika kita merasa tidak ada siapa-siapa, ingatlah bahwa Kristus mengasihi kita dan Ia memberikan jemaat-Nya sebagai penolong kita. Memang tidak mudah. Namun dengan kuat kuasa Roh Kudus, kita mampu belajar untuk percaya bahkan di saat yang paling kelam sekalipun.

Iman kita bukan terletak pada bulu domba, namun pada Anak Domba Allah.

Bisa di-share juga nih...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.