Masa kecil, masa penuh pelajaran

Surat Refleksi Masa Kecilku

Ini adalah tugas kuliahku yang menurutku baik untuk dibagikan di sini.

Oke deh!

Surat ini kutulis untuk mengingat kembali masa kecilku yang terasa begitu berjarak dari masa sekarang. Di umur 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan teologi, tak terbayang jika dosen Pelayanan Anak menyuruhku membuat surat ini. Bayangkan, sudah begitu banyak teologi yang masuk ke otakku dan bahkan kadang aku sudah kesulitan menghafal password akun-akun media sosial (yang notabene ada di masa sekarang) yang aku punya. Tapi sekarang aku harus mencoba mengingat sebuah kejadian di masa lampau, yang terpaut hampir 8 tahun dari umurku  sekarang. Ada sangat banyak hal yang bisa aku kenang. Tapi karena yang diminta hanya satu, maka aku dalam kehendak bebasku memilih kenangan ini. Kenangan ketika aku duduk di bangku sekolah dasar.

Perkenalkan...

Perkenalkan, ini Bima Anugerah seorang siswa laki-laki di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Ya, inilah diriku (dalam era yang berbeda). Aku sangat ingat bahwa masa itu aku terkenal sangat nakal. Aku sering berkelahi dengan teman, tidak taat orang tua, dan tentu langganan dipanggil guru. Jangan salah, aku bukan dipanggil untuk ikut lomba (walaupun itu pernah juga aku alami) tapi untuk pergi ke ruang guru atau sekedar dihukum di kelas. Mungkin sampai di sini, anda berpikir betapa suramnya masa kecilku. Mohon maaf bukan mau sombong, tapi aku juga banyak dapat juara kelas loh (walaupun ini tidak akan merubah kenyataan yang sudah terjadi bahwa aku nakal)!

Hari itu, waktu berjalan seperti biasa. Aku dan teman-temanku bermain bersama di jam istirahat (memoriku berkata demikian walaupun kebenarannya mungkin tidak demikian). Ketika itu ada seorang guru yang lewat dan bertemulah kami dengan beliau. Guru ini sering bersenda gurau dengan kami sebenarnya. Respon wajar anak SD nakal seperti aku ini tentu bergurau dengan guru ini. Lantas aku berkata “Halo pak itang!” dalam bahasa Manado atau dalam terjemahan Bahasa Indonesia “Halo pak guru berkulit hitam!” Kurang lebih seperti itu yang aku sampaikan ke guruku itu (guru itu memang berkulit hitam). Pikiranku saat itu ya hanya ingin bersenang-senang dan sejalan dengan tabiatku dulu.

Bercanda doang kok!

Kata-kata itu terucap dengan gaya khas guyonan bersama dengan teman-temanku. Artinya, kami mengucapkan itu sambil tertawa dan bergerak aktif. Beberapa saat kemudian, bukan respon candaan biasanya yang guru itu berikan kepada kami namun sebuah raut wajah yang berubah. Air mukanya berubah menjadi sebuah sorotan tajam kepada kami semua. “Kalian semua, kamu, kamu, dan kamu pergi ke kantor sekarang!” Entah berapa orang saat itu, intinya adalah satu: Kami dimarahi. Candaan kami berbuah petaka, guruku naik pitam.

Guru itu adalah bapak Charles Tindi. Aku masih ingat betul namanya. Dia adalah guru Bahasa Indonesia di sekolahku dulu. Hari ini aku mencoba mencari keberadaannya lewat media sosial. Hasilnya sejauh ini nihil. Inginku mencoba menguhubungi dia lagi, sekedar menanyakan kabar dan mungkin mengirimkan surat ceritaku ini kepadanya. Namun yang pasti, beliau masih hidup. Aku mendapat kabar ini dari teman SMA-ku yang kebetulan adalah kerabat beliau. Semoga aku bisa bertemu lagi dengan beliau sebagai “Bima” yang adalah hasil didikannya. Hasil didikannya? Apakah masih ada kelanjutan kisah ini? Tentu saja. Mari kita lanjutkan.

Menjalani "eksekusi"​

Setelah kami masuk ke ruang guru (baca: meja hijau), seperti biasa kami dihukum berdiri dan ditegur. Seingatku, itu berjalan cukup lama dan aku menjadi sangat takut. Pak Charles (begitu panggilan kami) memberi kami sebuah kejutan tambahan. Setelah dikira hukumannya akan selesai, ternyata tidak! Pak Charles memberi kejutan dengan menyuruh kami semua untuk membawa sebuah cabai besok! Apa? Cabai? Iya, benar! Cabai! Untuk apa cabai ini? Kami ternyata dihukum makan cabai. Namun karena ketersediaan cabai saat itu minim (karena kami di sekolah bukan swalayan) maka kami harus mengambilnya di rumah dan membawanya pada keesokan harinya untuk dimakan (baca: dikunyah). Tepatlah peribahasa “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula” bagi kami saat itu.

Singkat cerita, keesokan hari pun datang dan kami menghadap lagi ke ruang guru. Kami yang dihukum makan cabai ini menjalani “eksekusi” kami. Eksekusi Cabai (begitu sebutku sekarang). Inilah momen yang tak akan pernah terlupakan di masa SD-ku. Aku makan cabai itu tanpa apapun dan bukan hanya dimasukkan ke dalam mulut, namun harus dikunyah. Untung, itu tidak ditelan. Setelah dikunyah beberapa kali, cabai itu dimuntahkan. Namun, sensasinya sungguh luar biasa! Pedas sekali! Sungguh, makan cabai tok itu tidak nikmat. Jika digabung dengan tahu isi memang enak. Cabai tok? Mohon maaf, lebih baik aku belajar bahasa Yunani Koine saja.

Mulutmu, harimau-mu

Pengalaman itu merupakan pengalaman yang tidak terlupakan bagiku saat ini. Namun, saat itu, merupakan teguran keras bagiku. Makan cabai adalah hukuman agar aku bisa menjaga mulutku jauh lebih sopan. Saat itu aku tersadar bahwa guru adalah pribadi yang harus dihormati. Mulut tidak bisa sembarangan digunakan untuk menghina guru. Bercanda punya batasnya. Tapi saat itu, aku sudah kelewat batas. Aku tidak menghormati guruku dengan mulutku. Aku bersyukur lewat kejadian yang membekas itu, aku bisa belajar semakin menjaga mulut ini khususnya kepada orang yang lebih tua dariku. Selama dia lebih tua, apalagi dia adalah seorang guru, maka kewajibanku untuk menghormati dia. Layaknya peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” yang artinya hormatilah adat dan budaya yang ada di sekitar kita.

Pelajaran berharga

Aku senang sekali saat itu pak Charles tidak membiarkanku dalam kebodohanku. Dia menghukum aku. Mungkin jika aku tidak dihukum, aku tidak tahu semakin menjadi seperti apa aku ini. Aku bersyukur lewat hal-hal pedih (makan cabai) ada sesuatu kebaikan yang dapat kupetik. Setelah itu, aku harus jujur bahwa aku masih bisa jatuh dalam kesalahan yang sama. Tapi kali ini dengan ingat-ingatan cabai akan ada sebuah dorongan untuk tidak melakukannya lagi. Ya bisa dibilang kejadian itu adalah turning point bagiku sampai sekarang ini untuk menjaga mulut ini.

Ada karsa dalam hatiku untuk berterima kasih dan menceritakan kisah ini lagi kepadanya. Semoga pak Charles masih ingat. Namun ada jarak yang tidak bisa kutempuh, ada halangan yang tidak bisa kulewati. Hanya doa yang bisa kuucapkan lewat surat ini. Aku berdoa kepada Allah Tritunggal kiranya engkau dalam panggilan yang Tuhan berikan kepadamu, engkau bisa melakukannya seturut kehendak-Nya. Tuhan akan memberkati keluargamu, pekerjaanmu, dan cita-citamu, Pak. Izinkan aku mengutip doa Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi menjadi doaku juga bagimu,

Demikian

Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Filipi 1:9-11 (TB)

Terima kasih!

Bisa di-share juga nih...

Leave a Reply

Your email address will not be published.