Kukira ini ‘kan mudah

Ada yang relate juga ngga sama lagu ini?
Mulai

Penggalan lirik lagu “Hati-hati di Jalan” menggugah hatiku pagi ini. Pukul 10:24 di hari Minggu, aku menuliskan tulisan ini di Merah Putih Barbershop, Malang. Tempat ini memutarkan lagu-lagu pop Indonesia (seperti tipikal barbershop kekinian) untuk menghibur para pelanggan yang menunggu seperti aku. Salah satu lagunya adalah Hati-hati di Jalan yang dinyanyikan Tulus.

Mendengar lagu ini memang sudah biasa bagiku. Hanya saja hari ini cukup berbeda entah mengapa. Teringat sebuah kisah yang terasa begitu membekas dalam kenangan pikiranku. Tulisan ini mencoba merangkaikan memori indah itu bersama kata-kata dalam cerita yang pernah aku alami sebelumnya. Demikian sedikit latar belakang tulisan diary-ku kali ini.

Kenangan dalam diary

Kukira ini 'kan mudah Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT

“Kukira ini ‘kan mudah.” Menghela nafas dan memikirkan kembali kenyataan manis yang sempat hadir waktu itu. Sebuah perjalanan antara aku dan kamu yang seperti tiada tantangan dan halangan. Kamu mau aku, aku mau kamu. Kalau mau kayak tren yang ada di media sosial, “Dia tuh 10/10 loh!” Tak ayal jika aku berpikir, “Kukira ini ‘kan mudah.”

“Kukira kita akan bersama, begitu banyak yang sama …” Nggak sama-sama banget sih, cuma ya nyambung. Ngobrol ini itu bisa sejalan. Bercandaan juga masuk semua, dipancing punch line-nya eh dianya ketawa. Ga jarang pembahasan teologi juga masuk di tengah obrolan. Eh dianya mau diajak ngobrol beginian, bagiku jarang orang seperti ini. Mungkin inilah alasan mengapa dia ingin masuk seminari dulu. Tak ayal jika aku berpikir, “Kukira kita akan bersama.”

“Kasih sayangmu membekas.” Ini yang hari ini aku rasakan. Jejak-jejak kebersamaan dan rasa yang masih begitu membekas dalam kenangan seorang manusia, yaitu diriku sendiri. Aku rasa aku tidak merasakan bertepuk sebelah tangan saat itu. Bahkan kadang aku berpikir apakah aku kurang mengasihinya dulu? Walaupun sudah tidak lagi bersama, aku tidak menyangkali bahwa dia menyayangiku. Tak ayal jika aku berpikir, “Kasih sayangmu membekas.”

“Akan adakah lagi yang sepertimu?” Mungkin, tapi bisa jadi tidak. Jika tidak gimana dong? “Akan ku kejar sampai dapat!” Nggak kok, aku ga akan sejauh itu, tapi aku akan berusaha. Pemikiran ini sebenarnya naif, tapi inilah yang ku rasakan. Sebaik itu sih emang sampe-sampe aku belum bisa memikirkan alternatif lain. Tak ayal jika aku bertanya, “Akan adakah lagi yang sepertimu?”

Menanti yang tak pasti

Kenangan ini emang seperti dua sisi koin, indah dan menyakitkan. Walaupun demikian, aku belajar banyak kok dari kenangan ini. Merasakan bahwa aku dikasihi dalam masa-masa terburukku tidak akan pernah seindah ini tanpa aku merasakan kehilangan dia dalam hidupku. Sekalipun kamu berjalan menjauhi aku sekarang, aku akan tetap bersyukur bahwa Tuhan pernah menghadirkanmu dalam hidupku. Aku harap kita bisa bersama kelak.

Bagi kamu yang membaca tulisan ini, adakah kenangan indahmu membuatmu tidak berdaya? Satu hal yang ingin aku sampaikan buat diriku sendiri dan kamu yang baca tulisan ini, “Tuhan tau yang terbaik buat kita, yuk percaya sama Dia.”

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Cho
Cho
7 months ago

Indahnya tulisanmu bim..bim..