“Kuliah umum dulu atau langsung kuliah teologi?”

Bingung dengan pertanyaan "Kuliah S-1 umum dulu atau langsung ya?"?

Edisi spesial nih!

Versi Podcast-nya!

Halo guys! Bima di sini …. (malah jadi intro Gadgetin WKWKWK). Nah, postingan ini cukup berbeda dengan postingan QnA sebelum masuk seminari yang sebelumnya. Kali ini, aku ingin bahas satu pertanyaan aja tetapi dijawab dengan lebih komprehensif. Di postingan ini aku pengen bahas sebuah pertanyaan yang jadi kegelisahanku dulu sebelum masuk SAAT dan juga mungkin buat temen-temen sekarang yang sedang bergumul dengan panggilan menjadi hamba Tuhan. Apa pertanyaannya? Bisa dibaca di judul yakkk… Yap! Kuliah S-1 umum dulu baru masuk teologi atau langsung aja ya? Pertanyaan ini juga aku dapetin pas SYC 2020, saat salah seorang peserta bertanya dalam sesi panggilan menjadi hamba Tuhan. Jadi, kiranya postingan ini membantu dalam pergumulan kalian menjadi hamba Tuhan ya!

Bentar dulu

Disclaimer!

Guys! Sebelum lebih lanjut, aku mau bilang sesuatu nih. Postingan ini bukan sebuah how-to step-by-step mutlak untuk mendapat jawaban untuk pertanyaan tadi. Setiap orang memiliki perjalanan panggilan yang berbeda dan unik sehingga tidak ada satu cara mutlak yang dapat dipakai untuk semua orang. Walau demikian, bukan berarti kita tidak bisa belajar dari pengalaman panggilan orang lain. Kisah orang lain pun dapat dipakai Tuhan untuk menguatkan panggilan seseorang. Nah, tulisan ini adalah tentang pengalaman pribadi aku dalam panggilan menjadi hamba Tuhan. So, ini adalah tulisan dari perspektif aku ya! Lalu, aku juga percaya bahwa tidak ada pemisahan “sekuler” dan “rohani” lewat artikel ini. Semua orang dapat melayani di Tuhan di bidangnya masing-masing. Jadi, pemisahan yang aku lakukan di artikel ini hanya untuk memudahkan pembicaraan aja ya.

Oke, lanjut!

Sedikit kisahku...

Beberapa kisah kehidupanku udah aku tulis di postingan-postingan sebelumnya (cek 19 tahun di Bumi). Namun aku coba fokusin ke rentang waktu ketika aku menggumulkan panggilan ini. Panggilanku dimulai secara lebih serius ketika aku ikut SYC 2017. Saat itu, aku maju altar call. Setelah itu aku pun berbicara dengan salah seorang dosen (yang kemudian menjadi dosen dan bapak asramaku) yaitu Pdt. Budimoeljono. Pertanyaan yang sama saat itu aku tanya juga ke beliau: “Mau kuliah S-1 dulu abis itu S-2 Teologi atau langsung aja?” Saat itu aku menganggap kuliah umum akan membantu aku ketika pelayanan. So, aku mau kuliah dulu aja lah….

Foto SYC 2017. Tebak aku yang mana?

Aku masih kelas 2 SMA ketika aku ikut SYC 2017. Saat itu, aku menjabat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri 9 Binsus Manado (nanti kuceritakan apa maksudnya ini dengan panggilanku :D). Singkat cerita, sejak saat itu aku mulai menggumuli panggilan ini dengan lebih serius. Tahun 2018 berlanjut. Aku naik kelas 3 SMA. Di waktu-waktu inilah masa krusial panggilan aku. Banyak education fair yang membanjiri sekolah, sosialisasi dari kampus-kampus swasta, sampai pengayaan yang menambah jam sekolahku. Ini semua membuatku berpikir, “Aku mau masuk mana nanti?” Apa yakin dengan masuk SAAT yang katanya susah banget masuknya?

Podcast tentang Altar Call

Pertanyaan ini memaksa aku untuk berpikir. Mau tidak mau aku harus berpikir karena ini menyangkut masa depanku. Aku sempat berpikir untuk masuk DKV di salah satu kampus swasta. Ini sejalan dengan pengalaman aku di FLS2N Tingkat Nasional yang pernah aku ikuti di tahun yang sama. Namun, aku juga terpikir untuk masuk program Kimia Murni di IPB. Kimia adalah salah satu pelajaran yang aku sukai di sekolah. Bahkan aku pernah masuk OSN Kimia Tingkat Provinsi! Dan yang jauh lebih membuat aku bisa yakin adalah, adanya jalur bebas tes bagi mereka yang pernah menjadi Ketua OSIS di sekolah! Lebih lagi nih, tepat Ketua OSIS sebelum aku juga diterima di IPB karena jalur ini! Lihat? Betapa banyaknya kemungkinan, bukan?

Sejujurnya, aku bingung. Aku tahu banyak yang mendaftar di SAAT namun ditolak berulang kali. Bukan cuma sekali dua kali, tapi berulang kali. Aku merasa tidak mampu dengan ini. STT SAAT memberi kemungkinan penerimaan yang kecil dibandingkan dengan ketika aku mendaftar di beberapa opsi yang aku sudah sebutkan tadi. Aku berpikir “Apa aku coba daftar kuliah umum dulu aja ya? Terus kalo ga diterima baru masuk SAAT!” tapi setelah itu aku berpikir juga “Hmm… Masa masuk STT karena ga diterima aja sih? Terus misal kalo aku diterima di kampus lain, harus nunggu 4 tahun dulu lo Bim baru masuk SAAT lagi!” Pertanyaan-pertanyaan ini yang ada di pikiran aku saat itu. Coba temen-temen pikirin. Apa sama denganku?

Bergumul bersama Tuhan.

Segala pertanyaan dan keraguan ini aku gumulkan bersama Tuhan. Dengan apa? Berdoa. Doa adalah cara paling mujarab, objektif, dan tak terpisahkan dalam pergumulan panggilan ini. Aku bisa bilang bahwa doa adalah satu-satunya cara yang objektif dan bekerja pada semua orang, karena step ini diperintahkan langsung oleh Alkitab (tentu dengan membaca Alkitab juga). Dalam doa dan pembacaan firman ini, Tuhan menunjukkan tanda-tanda yang memperjelas panggilanku. Contohnya aku sempat 2 kali membaca bagian firman Tuhan (yang tidak aku rencanakan) yang membahas panggilan! Silahkan buka Yunus 1 dan 1 Samuel 3. Setelah itu ada beberapa kejadian yang cukup aneh bagiku. Yaitu ketika aku masih menggumulkan untuk mencetak form pendaftaran STT SAAT (bayangkan mencetak form pendaftaran aja bergumul), eh malah tiba-tiba teman pelayanan aku di sekolah minggu langsung kasih form pendaftaran itu! Sudah dicetak dan tinggal isi! 

stt saat malang, pendaftaran stt saat malang, alamat stt saat malang, asrama stt saat, jurnal stt saat, akreditasi stt saat malang

Dari semua tanda-tanda yang diberikan Tuhan itu, aku sadar bahwa aku harus langsung masuk ke SAAT. Aku harus mendaftar di gelombang satu alias SAAT sebagai pilihan pertama dan bukan terakhir. Semua tanda ini bisa aku tangkap karena aku berdoa dan diberikan kepekaan oleh Tuhan (maka dari itu aku bilang kalo doa tuh ga bisa dipisahkan). Singkat cerita aku memutuskan untuk masuk gelombang pertama penerimaan mahasiswa baru STT SAAT. Aku juga keluar dari jalur undangan SNMPTN untuk memberikan ruang bagi siswa lain untuk masuk. Aku seperti melepaskan semua jalur penerimaan lain yang saat itu bagiku jauh lebih besar kemungkinan diterimanya dibandingkan STT SAAT. Aku juga harus memberikan usaha lebih untuk masuk jalur SBMPTN yang susah itu, jika aku gagal masuk SAAT. Puji Tuhan tahun 2019 aku diterima dan ketika aku menulis ini aku sudah semester 4.

Gimana?

Tips-tips

Dari pengalamanku saat itu, ada beberapa tips yang bisa aku bagiin dengan kalian yang bergumul dengan pertanyaan yang sama.

1. Doa, doa, dan doa

Pergumulan paling awal adalah dengan berdoa. Doa dan tanyakan “Apakah aku dipanggil menjadi hamba Tuhan untuk melayani-Nya dalam panggilan yang khusus ini?” “Apakah aku harus langsung ke sekolah teologi atau harus kuliah S-1 umum dulu?” Dan yang mau aku bilang adalah, jawaban doa tiap orang berbeda. Mungkin aku dipanggil untuk langsung masuk STT. Namun bagi yang lain, Tuhan memakai cara-Nya yang berbeda untuk memanggil mereka. Mungkin lewat kuliah umum terlebih dahulu. Mungkin ditunda dulu. Ini tergantung journey kalian bersama Tuhan!

2. Coba masuk ke pelayanan anak

Ketika aku membagikan pergumulanku ini dengan hamba Tuhan di gereja, mereka menyarankan aku untuk melayani di sekolah minggu. Ini bukan tanpa alasan. Tahun pertama di SAAT memang berfokus pada pelayanan anak sehingga ini sangat membantu aku nanti. Namun semakin ke sini, aku semakin sadar bahwa pelayanan anak lebih dari itu. Pelayanan anak bagiku cukup sulit. Ini termasuk harus berkorban banyak untuk pelayanan. Ini juga bentuk pelayanan yang berhubungan langsung dengan manusia. Ini semua mempersiapkan aku akan apa itu menjadi hamba Tuhan. Dan aku sangat terbantu dengan pelayanan ini. So, temen-temen mungkin juga bisa menggumulkan pelayanan ini sebelum masuk STT!

3. Jawaban aku untuk pertanyaan tadi

Jika aku disuruh menjawab pertanyaan tadi, aku akan menjawab: Langsung saja masuk STT! Sekali lagi ini jawaban aku dan tiap orang bisa memiliki jawaban yang berbeda. Namun, aku coba berikan beberapa alasan mengapa jawaban ini masuk akal dan dapat diterima:

  • Langsung masuk sekolah teologi menunjukkan kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan, yaitu pilihan pertama kita dan bukan pilihan sekian (apalagi jika kita baru lulus SMA).
  • Pembelajaran teologi kita pun semakin dalam dengan kita langsung S-1 Teologi dan dilanjutkan S-2 Teologi jika dibandingkan S-1 Umum lalu S-2 Teologi.
  • Pembentukan di asrama bagi anak yang baru lulus SMA tentu menjadi tantangan tersendiri namun bagiku itu menjadi privilege untuk langsung masuk ke STT daripada ke kuliah umum dulu.

4. Kalo udah kuliah umum dulu gimana?

Aku bukan lagi menjelek-jelekkan kuliah umum. Kuliah umum sangat baik. Dan beberapa dosen SAAT pun juga pernah kuliah umum dulu sebelum masuk STT. Ini bukan masalah mana yang duluan tapi mana yang Tuhan tunjukkan. Tidak ada yang salah dengan kuliah umum terlebih dahulu baru kuliah teologi atau sudah kuliah umum dulu baru terpanggil. So, silahkan gumulkan ya guys!

5. Persiapkan dengan baik!

Kuliah teologi bukan asal-asalan. Persiapkan dengan baik! Bisa dengan les bahasa Inggris dulu, ikut seminar-seminar, atau baca-baca di blog ini tentu akan membantu kalian untuk panggilan ini. Yang mau saya bilang “Berikan yang terbaik bagi Tuhan!” Tentu dengan rajin berelasi dengan Tuhan juga ya!

Selesai!

Silahkan bergumul!

Oke sekian tulisan kali ini. Teman-teman bisa cek seri QnA sebelum masuk seminari lainnya di blog ini ya. Tuhan Yesus memberkati teman-teman! 😀

Bisa di-share juga nih...

Leave a Reply

Your email address will not be published.