Ketika kegagalan membuatku merasa tidak berguna.

Sedih, hancur, dan gagal.

Sambil mendengarkan Written in The Stars – The Overtunes aku mencoba menulis tulisan ini. Hari ini ada rasa hancur yang aku rasakan. Mungkin teman-teman juga pernah merasakan hal yang sama sepertiku, yaitu ada dalam fase “menyalahkan diri sendiri”. Menyalahkan atas apa? Segala kegagalan dan kesedihan yang kulakukan. Hancur adalah konsekuensi yang cukup masuk akal atas itu semua… aku harap tidak.

BLAME

Kenapa kamu ancurin semuanya!

Pertanyaan di atas terus terulang di pikiranku. Melihat ke belakang dan betapa gagalnya aku melakukan semuanya, serasa ingin sekali waktu kuulang. Walaupun tak mungkin, sama sekali tak mungkin. Semuanya telah berlalu, sayang itu semua berlalu dalam kesedihan. Bayangkan segala keindahan dan tawa yang seharusnya bisa dihasilkan dalam sebuah peristiwa akhirnya hancur gara-gara aku! Betapa tidak bergunanya diriku sebenarnya. Kenapa kamu ancurin semuanya, Bim!

Written in The Stars.

Coba bayangkan langit yang indah di malam hari. Malam yang tenang, tidak ada hujan namun hanya angin malam yang sejuk. Duduk di bentaran padang rumput hijau nan luas, dihangatkan dengan api unggun. Betapa banyak bintang yang menghiasi angkasa malam saat itu. Ditemani makanan kesukaanmu dan orang yang kamu cintai. Orang itu bersamamu ingin menikmati bintang-bintang yang indah itu. Indah tidak? Sampai suatu kali…

HANCUR

Namun semuanya hancur.

Tetapi kesempatan indah itu bukannya dihargai dan dimaknai dalam cinta, aku menghancurkannya. Hal-hal yang sebenarnya bisa kulakukan, tidak kulakukan. Semuanya rusak. Tak ada lagi yang berharap malam penuh bintang itu akan menjadi malam paling indah. Malah sebaliknya, itu menjadi malam paling buruk dalam hidupku. Sedih atas kegagalan dan hancur atas segala masa indah yang tidak kulalui dengan baik.

Foto oleh Jakub Novacek dari Pexels

Aku menyalahkan diriku atas semua yang terjadi. Kenapa? Kenapa tidak kulakukan yang sebaliknya? Kenapa aku hancurkan ini semua? Kenapa! Kenapa semuanya gagal? Semua yang sudah aku rencanakan sirna begitu saja! Tidak adakah yang mengerti betapa hancurnya hatiku melihat semua yang sudah terjadi! Di mana Tuhan? Apakah Engkau juga melihat segala yang sudah terjadi, oh Tuhan? Di mana kuasa-Mu? Kenapa Engkau biarkan semua ini terjadi? Tidak adakah jalan yang jauh lebih tidak menyakitkan dibanding ini?

Betapa banyak hal salah.

Ketika menyalahkan diriku atas semua yang telah terjadi. Aku sadar betapa banyak hal yang tidak kulakukan dengan baik. Tapi mengapa begitu terlambat? Apakah kata-kata “tidak ada kata terlambat” benar? Atau ini hanya sebuah klise? Aku mencoba meneropong kembali ke belakang, semua yang telah terjadi. Aku sadar betapa banyak hal yang aku lewatkan. Yang sayangnya ketika semua sudah hancur baru aku sadar.

Lalu apa? Apa yang harus kulakukan? Yang aku tahu sekarang adalah: aku gagal. Tidak ada kata yang bisa lebih baik menggambarkan diriku. Semua yang telah terjadi adalah cerminan kegagalan yang telah kubuat. Begitu sempurna, bahkan terlalu sulit untuk dilupakan. Tahap menyalahkan diri sendiri ini cukup melelahkan namun entah mengapa juga memberi semangat akan hari esok. Walaupun esok adalah misteri bagiku.

HOPE

Oke... ayo coba lagi.

Aku belum sampai di tahap ini. Bagian terakhir ini sebenarnya sedang mengajari diriku sendiri mengenai apa yang terjadi. Jadi, bacalah bersamaku bagian ini. Jangan anggap aku sudah selesai dengan ini. Tidak.

Foto oleh Sheena Wood dari Pexels

Tulisan ini aku tulis sebagai caraku untuk tidak menyangkali perasaanku. Malam ini, detik ini ketika aku menulis tulisan ini. Itulah semua yang aku rasakan. Tapi seperti sub-judul bagian terakhir ini “Oke… ayo coba lagi” memberi sebuah harapan bahwa walaupun semua hancur, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Yang di belakang tidak akan pernah berubah. Itu akan menjadi sejarah. Di depan masih banyak yang dapat kita lakukan. Maka dari itu, ayo coba lagi. Jangan menyerah! Masih ada harapan! Ketika semua meninggalkanmu, Tuhan tidak. Ketika semua hancur, Tuhan mampu. Ketika kamu sedih, Tuhan ada di sana bersamamu. Entah ini klise atau tidak, tidak ada substitusi yang jauh lebih baik dari Tuhan. Kiranya tulisan kejujuranku ini dapat menolongmu dalam masa-masa menyalahkan diri sendiri. Terima kasih.

Bisa di-share juga nih...

Leave a Reply

Your email address will not be published.