Melangkahkan Kaki Demi Injil di Kota Manado

Secuplik pergumulan pribadiku dalam pelayanan ini
Mulai

Tanggal 3 Agustus 2025, setelah selesai latihan futsal, aku dan beberapa temanku nongkrong di salah satu spot nongkrong viral di Manado, Sunbae. Saat itu hari Minggu, wajar jika area ini tergolong sangat ramai. Ketika sedang duduk di sana, aku melihat lautan manusia yang “hidup,” tapi entah benar-benar hidup atau hanya “terlihat hidup.”

Ya, Efesus 2:1 mengatakan bahwa orang berdosa itu “mati” walaupun ia hidup. Mati secara rohani, tentunya. Terbesit dalam pikiranku, di tengah kerumunan manusia ini, apakah mereka sudah mendengar Injil Yesus Kristus? Di tengah lautan manusia ini, di mana Injil itu hadir? Bukankah ini ladang yang sudah menguning, tuaian yang segera harus dituai (Mat. 9:36—38)?

Jujur hatiku tergerak untuk menghadirkan Injil di sana. Namun, bagaimana caranya? Di tengah kota Manado dengan julukan “kota seribu gereja,” sepertinya ironis jika Injil tidak hadir di tengah keramaian ini. Di mana orang Kristen? Di mana gereja? Aku tidak muluk-muluk saat itu, aku hanya bermimpi sekurang-kurangnya kerumunan manusia ini sadar bahwa ada kisah indah yang bernama “Injil” di dunia ini.

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Fast forward ke bulan Desember akhir, aku belum bergerak apa-apa. Aku hanya bermimpi di bulan Agustus, tetapi belum bergerak ke sana. Entah mengapa, hatiku terusik lagi untuk memulai pelayanan ini. Ketika ada hal yang aku harapkan tidak tercapai, aku seperti “dibalikkan” Tuhan untuk mengusik kembali mimpi di bulan Agustus tersebut.

Singkat cerita, aku bertemu dengan beberapa orang yang bisa diajak kolaborasi untuk pelayanan ini. Namun, ada beberapa hal menarik yang bisa aku refleksikan dari pelayanan ini.

Tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu

Pada paragraf sebelumnya aku menyebut ini “pelayanan.” Namun, sejujurnya, aku benar-benar tidak tahu secara pasti “pelayanan” apa yang hendak aku lakukan ini. Terbesit di pikiranku untuk membuat seperti “open stand” di mana orang-orang bisa berdiskusi teologi secara terbuka.

Setelah dipikirkan kembali, ide ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Aku hanya percaya diri saja maju ke depan dengan pelayanan ini. Sampai pada satu titik aku tersadar dengan cukup keras, aku bertanya, “Buat apa pelayanan ini? Aku tidak tahu bentuknya seperti apa, aku juga tidak tahu hasilnya seperti apa. Untuk apa, Tuhan?”

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Pertanyaan ini menggema begitu keras ketika aku dan beberapa rekanku sudah menentukan tanggal pasti untuk kami bisa turun ke jalan melakukan pelayanan penginjilan jalanan ini. Namun, sejujurnya, “pelayanan penginjilan jalanan” yang aku maksud benar-benar tidak aku ketahui secara pasti bagaimana ini akan dijalankan.

Pelayanan ini hanya ada di pikiranku, masih di “awang-awang.” Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Aku terus bertanya, “Untuk apa aku melakukan hal yang tidak jelas seperti ini? Bukankah baik bagiku untuk melayani mimbar di gereja saja?”

Lebih baik mulai dan gagal, daripada tidak mulai sama sekali

Tanggal 5 Januari 2026, setelah pergumulan panjang, aku akhirnya keluar rumah mengendarai sepeda motor. Sepanjang perjalanan aku tetap mempertanyakan hal yang sama, “Untuk apa, Tuhan?”

Akhirnya aku sadar, pelayanan ini bukan pelayanan yang menuntut kesempurnaan. Pelayanan ini bukanlah pelayanan yang membuat aku bisa mengetahui secara pasti setiap detil yang akan terjadi di dalamnya. Namun, inilah pelayanan kesetiaan dan iman kepada Yesus Kristus yang telah memanggilku sebagai rohaniwan.

“Lebih baik mulai dan gagal, daripada tidak mulai sama sekali” adalah kesimpulan yang aku coba pegang untuk memulai pelayanan ini. Ya, aku melangkah dalam iman. Aku ingin setia pada panggilanku sebagai hamba Yesus Kristus, memberitakan Injil dalam baik atau buruknya keadaan.

Melangkahkan Kaki Demi Injil di Kota Manado Diary, Panggilan Manado – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT

Tuhan itu baik

Tim kami ada 5 orang. Dari pukul 4 sore kami mulai melakukan pelayanan penginjilan di Kawasan Megamas Manado. Apa yang kami lakukan berbeda dari briefing sebelumnya. Namun, Allah bekerja memakai segala ketidaktahuan kami dalam pelayanan ini.

Kami berjalan menyusuri kawasan ini. Melihat apakah ada orang yang bisa didekati untuk diajak diskusi. Ada yang menerima, ada yang menolak. Akhirnya setelah dua jam melangkahkan kaki, ada sekitar 10 orang bisa kami ajak ngobrol tentang teologi Kristen dan Injil. Setelah diskusi, kami berdoa bersama.

Dua jam penuh misteri ini ternyata membawa banyak hal baru buatku. Aku belajar bersosialisasi dengan orang baru, mendengarkan kisah orang, dan berdoa bagi orang yang tidak aku kenal.

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Satu pemuda yang kami datangi bahkan sedang bergumul dengan hidupnya yang tidak “kemana-mana,” ia merasa stuck. Entah mengapa, aku merasa pertemuan kami ini benar-benar seperti dirancang oleh Allah. Ketika pemuda ini datang ke Kawasan Megamas di tengah ketidaktahuan, kami bisa datang berbagi tentang firman Tuhan, secara khusus Efesus 2:10 yang mengatakan bahwa Allah punya pekerjaan baik bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Allah memutarbalikkan apa yang aku takutkan menjadi sebuah momen manis, membuatku tersadar betapa besar kuasa Allah dalam diri manusia berdosa sepertiku. Pelayan Tuhan yang bahkan tak berani melangkah untuk melayani Injil.

Setia, bukan sempurna

Ternyata, pelayanan ini tidak semenakutkan yang aku pikirkan sebelumnya. Aku belajar melangkah dalam iman, berjalan dalam ketidaktahuan, setia pada panggilan Yesus untuk memberitakan Injil, dan belajar kesetiaan Tuhan yang Ia nyatakan padaku.

Tidak semua hal harus aku ketahui dengan pasti, yang terutama adalah kesetiaan untuk melangkah. Selama hal tersebut adalah benar, untuk apa takut melangkah? Maka, renungkan pertanyaan ini, “Sudahkah aku memulai dan (mungkin) gagal, atau tidak sama sekali?”

Hari ini, jika kamu ragu untuk melangkah demi Injil, mungkin tulisan ini bisa menolongmu untuk tidak berfokus pada dirimu, tetapi pada Allah yang setia itu. Dia tidak memanggil kita untuk sempurna, melainkan untuk setia. Sebagaimana Yesaya dipanggil melayani bangsa yang kelak akan dibuang, kita pun dipanggil melayani sekalipun mungkin hasilnya “nihil.”

Tentang Penulis

Picture of xperiencereal

xperiencereal

Bima Anugerah

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments