Karena belum bisa tidur, daripada aneh-aneh saya coba buat draf yang tertunda. Ya, ini adalah versi tulisan (renungan lebih cocok mungkin ya hahaha) dari episode podcast kedelapan saya, Menjadi Lampu LED.

9 Juni 2020. 11:43 PM (WITA).

Karena belum bisa tidur, daripada aneh-aneh saya coba buat draf yang tertunda. Ya, ini adalah versi tulisan (renungan lebih cocok mungkin ya hahaha) dari episode podcast kedelapan saya, Menjadi Lampu LED. Mungkin namanya aneh (hmmm) tapi mudah diingat kan? (Itu tujuannya hahahaha). Saya menulis ini dalam keadaan sedih, tapi jangan mellow dulu. Santai…. Take it easy! HAHAHAHA (semoga bisa).

Kebetulan ada lampu LED beneran. Tidak di-endorse!

Renungan kehidupan.

So, Menjadi Lampu LED adalah perenungan saya dalam beberapa minggu yang lalu dari 1 Yohanes 1:5-10. Setelah merenungkan perikop ini, saya memutuskan untuk buat podcast-nya dan sekarang renungan tulisannya. Sila cek Komisi Podcast Kristen untuk dengerin audio-nya (nanti saya kasih juga di bawah). Semoga bisa memberkati teman-teman yang membaca 🙂

TERUS TERANG, TERANG TERUS

Oke. Intinya keluar dari asrama seminari, menunjukkan betapa tidak sempurnanya saya.

Karena pandemi, maka mahasiswa disuruh balik ke rumah masing-masing. Ya, berawal dari masa-masa karantina atau #StayatHome yang membosankan, saya banyak bergumul dengan dosa. Bukannya menjadi lebih produktif dan bermanfaat (kayak jualan aja), saya malah menjauh dari Tuhan. Sampai pada satu titik penyesalan akan kehidupan menjadi sebuah kenyataan (jangan puitis dong hahahaha). Oke. Intinya keluar dari asrama seminari, menunjukkan betapa tidak sempurnanya saya.

Asrama.

Ngomong-ngomong asrama, di sana adalah tempat paling nyaman untuk bertumbuh, belajar, bersosialisasi, dan bahkan mencari cinta (ini kenyataan). Di sana menjadi “suci” akan lebih mudah jika dibandingkan dengan di luar asrama (setidaknya menurut saya). Di asrama banyak hal yang menekan saya agar tidak terjerumus dalam dosa. Tapi, apakah ini hanya sementara?

stt saat malang, pendaftaran stt saat malang, alamat stt saat malang, asrama stt saat, jurnal stt saat, akreditasi stt saat malang

Simulasi awal.

Pandemi menunjukkan bahwa itu hanya sementara. Pandemi mengajarkan saya bahwa “godaan” utamanya ya ketika saya keluar asrama dan menjadi hamba Tuhan. Saya tidak menjadi hamba Tuhan lalu tinggal di asrama selamanya bukan? No! Saya hidup di dunia yang telah jatuh di dalam dosa (asrama termasuk di dalamnya)! Jadi, pandemi ini mengungkapkan siapa sebenenarnya saya, ketika keluar asrama. Macam simulasi awal lah.

 

Setelah melewati berbagai pengalaman di rumah (di luar asrama seminari). Saya mulai meragukan iman dan panggilan saya. Karena saya masih berdosa. Pendosa besar. Yang sudah diampuni tapi buat lagi dan buat lagi kesalahan yang sama. Dan 1 Yohanes 1:5-10 inilah yang menegur saya dengan keras bahwa “kamu adalah terang”. Bukan tanpa alasan Yohanes berkata demikian, melainkan karena Kristus adalah terang. Dan, saya yang walaupun sudah percaya kepada Kristus masih berbuat dosa. Malu, sedih, dan meragu itulah yang ada di pikiran saya.

Berdosa namun dikasihi.

Dilema inilah yang akhirnya muncul. Seorang percaya, malah dipanggil sekolah Alkitab, mau jadi pendeta, tapi kok berdosa? Perikop yang sama yang menegur saya, ternyata memberikan pengharapan yang indah. Coba baca ya mulai dari ayat 7, 8, 9 sampai 10, semuanya mention bahwa “kamu berdosa”. Paling jelas ayat 10, “sampe aja kamu bilang kamu ga berdosa, berarti Tuhan jadi pembohong!”. Berarti kita berdosa kan? Tapi pengharapan ayat 9 memberikan kelegaan yang luar biasa. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil…”

seminari alkitab asia tenggara, seminari alkitab asia tenggara malang jawa timur

Kasih manusia yang tidak sempurna.

Artinya, sebagai orang Kristen kita memang mengasihi Allah tapi Yohanes tau bahwa kasih kita kepada Allah tidak sempurna (sekali lagi ga sempurna). Banyak cacat cela, kelemahan, jatuh bangun, dsb. yang membuat kita ga sempurna di hadapan Allah. Dan menariknya nih, Yohanes memang ga sedang menyuruh kita menjadi orang Kristen yang sempurna! Tidak sama sekali!

Yohanes ingin menunjukkan seperti ini “Aku tahu kita semua ga sempurna dalam mengasihi Allah. Tapi anugerah keselamatan itu menolong kita di tengah ketidaksempurnaan kita untuk tetap berusaha mengasihi Allah. Kalau kita jatuh, pengampunan Allah dalam Kristus cukup untuk membangun kita lagi dan membuat kita mengasihi-Nya kembali.”

KESIMPULANNYA BOS

Jangan hidup dalam kegelapan lagi ya.

Di tengah ketidaksempurnaan saya, saya belajar bergantung kepada anugerah Kristus. Ini bukan kesempatan untuk hidup dalam dosa (inget ayat 6). So, inilah pengharapan saya ketika saya jatuh dan berjuang melawan dosa. Saya tahu saya tidak sempurna, namun kasih Allah memampukan saya untuk terus berjuang melawan dosa. Apa hubungannya dengan lampu LED? Jawaban lebih spesifik sih ada di podcast-nya ya hahahaha. Intinya, jangan hidup dalam kegelapan lagi. Layaknya lampu LED yang menerangi kegelapan, sudah sepatutnya orang Kristen juga demikian.

Ep. 8 - Menjadi Lampu LED.

Sharing aja di kolom komentar ya. Demikian. Tuhan Yesus memberkati.

Bisa di-share juga nih...

Leave a Reply

Your email address will not be published.