Pacaran kok berani selingkuh?

Jangan kurang ajar guys
Mulai

Belakangan ini banyak video-video reels Instagram yang nunjukkin (entah drama settingan atau beneran) perselingkuhan antara muda-mudi yang berpacaran (ada juga sih yang suami-isteri). Kita juga dihebohkan dengan kasus dugaan perselingkuhan dari Virgoun yang beritanya tersebar di media sosial. Well, huftt… 

Ada juga temanku yang berbagi kisah tentang perselingkuhan yang terjadi pada orang terdekatnya. Kadang ya aku mikir ketika mendengarkan kejadian-kejadian seperti itu, “Kok bisa ya orang-orang ini selingkuh?” Terus setelah selingkuh, orang yang melakukan perselingkuhan ini biasanya pengen balikan sama pasangan yang dia udah kecewain. Lah! Kalo emang mau sama yang lama, ngapain selingkuh woi!

Pengalaman diselingkuhin pasangan, berdampak dua arah: pihak yang melakukan perselingkuhan dan pihak yang terkhianati. Ini sangat menyakitkan dan bisa bikin seseorang trauma atau terus-menerus ada dalam relasi toxic. Harga dirinya bisa hancur atau malah menutup diri sama sekali dengan relasi yang baru. 

Emang selingkuh salah?

Konsep pacaran tidak ada di dalam Alkitab. Namun, konsep tentang berelasi satu sama lain sebagai seorang Kristen dapat ditemukan di dalam Alkitab dengan sangat jelas. Maka dari itu, konsep pacaran harus didasarkan dari apa yang Alkitab ajarkan tentang “apa sih itu relasi Kristen?”

Dasar dari relasi Kristen menurut Alkitab adalah “kasih.” Matius 22:39 dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa kita harus mengasihi satu sama lain sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri. Lebih dari pada itu, bukan hanya seperti kita mengasihi diri kita sendiri, Tuhan Yesus ingin agar kita mengasihi seperti Dia mengasihi kita (Yoh. 15:12).

Pacaran kok berani selingkuh? Cinta – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT

Berkhianat terhadap komitmen dalam pacaran adalah tindakan yang melawan natur kasih dari relasi Kristen. Ketidaksetiaan tidak pernah menjadi manifestasi kasih Kristen. Begitu juga dengan pernikahan yang ngga ganti-ganti pasangan, menunjukkan kesetiaan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi di dalamnya. 

Perselingkuhan juga adalah tindakan yang berpusat pada diri sendiri. Tindakan ini tidak menganggap orang lain sebagai subjek yang perlu dihargai kehadirannya (dalam hal ini pasangan kita). Selain itu, dalam konteks pernikahan, perselingkuhan tentu adalah dosa di mata Tuhan (bdk. kisah Daud dan Barsyeba). Walaupun pacaran dan pernikahan adalah dua jenis komitmen yang berbeda, seorang Kristen tetap perlu memegang prinsip kasih Kristen (salah satunya kesetiaan) dalam menjalani relasi.

Jika pacaran adalah untuk mempersiapkan pernikahan, maka seharusnya sikap untuk setia terhadap pasangan adalah hal yang tidak bisa dikompromikan. Ini adalah wujud kasih kita kepada sesama sebagaimana Kristus mengasihi kita. So, perselingkuhan bukanlah tindakan mengasihi dan perlu dihindari dengan serius.

Jika di kemudian hari memang dirasa pasangan kita tidak cocok dalam masa pacaran, maka solusinya bukan selingkuh melainkan komunikasi dan doa. Gumulkan baik-baik di hadapan Tuhan apakah perlu untuk berpisah atau tidak. Komunikasikan dengan pasanganmu untuk kelanjutan hubungan kalian. Ingat guys, perselingkuhan tidak pernah menjadi opsi dalam berelasi.

Kok bisa sih orang selingkuh?

Jika memang selingkuh adalah sesuatu yang keliru, mengapa orang-orang tetap memilihnya? Ada beberapa alasan, pura-pura tidak tahu atau emang kurang ajar. Hanya dua itu? Kok ngga ada aspek yang berhubungan dengan pasangannya? Misal, selingkuh karena pasangannya tidak perhatian. Bukannya itu bisa jadi alasan terjadinya perselingkuhan?

Guys, memilih selingkuh tidak pernah dibenarkan, apapun alasannya. Selingkuh bukan solusi kurangnya perhatian pacar, saling pengertian solusinya. Seringkali kita menghubungkan tindakan selingkuh pacar atau mantan pacar kita diakibatkan karena ada yang sesuatu yang salah dengan diri kita. Tidak! Yang salah hanya mereka yang menentukan pilihan untuk selingkuh itu. Selingkuh, sekali lagi, tidak pernah dibenarkan dalam kondisi apapun. Itu bentuk ketidaksetiaan yang tidak didasarkan dengan kasih.

Mungkin saja memang ada hal-hal yang perlu menjadi evaluasi kita bersama dalam menjalani relasi. Namun, itu tidak serta-merta membuat kita-lah pihak yang mengakibatkan perselingkuhan terjadi. Pihak yang berselingkuh adalah manusia dengan kehendak bebasnya sendiri, dia sendiri yang bertanggung jawab dengan tindakannya. Kita yang menjadi pihak tersakiti memang perlu mengevaluasi diri, tetapi bukan kita yang perlu menanggung beban kesalahan atas pilihan orang lain.

Menyalahkan diri sendiri akibat perselingkuhan yang dilakukan orang lain adalah penyiksaan diri. Kita bisa jadi takut untuk berelasi lagi, menghindar untuk membuka diri, atau menjadi merasa diri begitu kurang sehingga minder. Guys, ingat, yang salah bukan diri kita tetapi orang yang melakukan perselingkuhan itu.

So, buat teman-teman yang mempertimbangkan untuk menjalani relasi pacaran, please banget buat pikir matang-matang. Jangan sampai karena kita pacaran buat senang-senang doang lalu kita seenaknya selingkuhin pasangan kita. Pacaran hanya buat mereka yang dewasa. Pacaran adalah untuk pernikahan sehingga perlu dijalani dengan serius. Please, jangan sakitin anak orang kalau emang kita belum siap dengan relasi ini.

Perlu diakui emang sulit untuk pulih dari trauma diselingkuhin. Ngga mudah buat move on dari kejadian kelam seperti itu. Makanya, aku menyebutnya “kurang ajar” bagi orang-orang yang tega berselingkuh. Namun, aku harap teman-teman ngga kehilangan harapan sama Tuhan. Tuhan mampu memulihkan segala luka kita. Dia adalah Bapa yang mengasihi aku dan kamu. So, yuk berserah sama Tuhan!

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments