Panggilan Allah yang Melampaui Kegagalan

Bagaimana jika kebuntuan adalah pembentukan untuk menerima panggilan-Nya?
Mulai

Pernahkah kamu merasa hidupmu buntu? Bukan karena kamu malas, tetapi seakan-akan semua pintu impianmu tertutup? Beberapa kali aku merasakan hal ini, yaitu ketika kata “menyerah” selalu muncul dalam benakku. Setiap malam aku bergulat dengan diriku sendiri, karena segala usahaku selalu menghasilkan kegagalan.

Namun, yang paling melelahkan bukanlah “gagalnya usaha,” melainkan pertanyaan yang terus menghantuiku, “Apa yang sebenarnya salah denganku?” Aku mencoba memperbaiki langkah, mengulang rencana, dan menurunkan ekspektasi, tetapi kenyataan tetap sama, kegagalan selalu menghampiriku.

Bulan Juli 2021 adalah awal mula dari fase itu. Setelah aku lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), begitu besar percaya diriku terhadap rencana yang sudah kurancang. Begitu besar ambisiku untuk melanjutkan studi di universitas negeri yang aku impikan.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Aku merasa senang karena mendapatkan kesempatan mendaftar jalur SNMPTN. Namun, sayang hasilnya nihil. Kenyataan ini sebenarnya tidak terlalu melukai hatiku. Sebab, dengan persiapan yang sudah aku lakukan, aku akan lolos melalui jalur SBMPTN.

Namun, bayangan kegagalan selalu mengikutiku. Ironisnya, aku tidak dapat mengikuti SBMPTN, bukan karena ketidakmampuan akademik, melainkan karena keterbatasan kondisi ekonomi keluarga di masa pandemi.

Jadwal ujian pukul delapan di Bandung, sementara aku tinggal di Bekasi. Solusi paling masuk akal adalah menginap, tetapi total biaya delapan ratus ribu adalah seluruh dana yang dimiliki orang tuaku saat itu.

Keluarga atau Impian?

Peristiwa ini membuat aku berhadapan dengan pilihan yang pahit: mempertahankan impian pribadi atau memastikan dapur rumah tetap menyala. Singkat cerita, aku memilih yang kedua. Bukan karena impian pribadiku tidak penting, tetapi aku melihat itu bukanlah yang utama pada momen itu. Sejak saat itu, aku menutup diri terhadap dunia perkuliahan dan memilih untuk bekerja membantu keluarga.

Setelah itu, aku melamar pekerjaan ke berbagai tempat. Sekitar lima perusahaan memanggil aku untuk tes, dan semuanya berakhir dengan kegagalan. Ironisnya, di satu perusahaan aku sudah melewati tahap medical check-up, tetapi tetap dinyatakan tidak lolos.

Perasaan acuh tak acuh bercampur dengan kekecewaan yang dalam terjadi dalam diriku. Bagaimana tidak? Impian kuliah runtuh dan pekerjaan tak kunjung dapat. Momen ini membuat aku marah kepada Allah.

Aku merasa seakan-akan Allah tidak memberikanku celah untuk bernapas. Aku selalu bertanya “Tuhan, mengapa Engkau membiarkanku terjebak dalam lingkaran kegagalan ini?” Diam-Nya terasa begitu panjang dan menyakitkan. Tidak ada jawaban, hanya ada keheningan yang memaksaku berhadapan dengan diriku sendiri.

Panggilan yang Tidak Masuk Akal

Aku adalah orang yang lahir karena anugerah Allah. Kelahiranku disebabkan karena doa dan puasa keluarga besar dan pendeta. Ibuku beberapa kali mengalami keguguran sebelum aku lahir.

Jadi, pada saat aku lahir rasa sukacitanya membuat ibuku bernazar kepada Allah, untuk menyerahkan seluruh hidupku kepada Allah. Namun, aku tidak memaknainya demikian. Aku merasa narasi ini bukanlah panggilan Allah agar aku menjadi hamba-Nya penuh waktu.

Namun, ada beberapa kali peristiwa aku merasa Allah sedang mengarahkan aku menjadi hamba-Nya penuh waktu. Misalkan, satu waktu, aku dua kali ke sebuah gereja yang sama, tapi bukan gereja asalku. Seorang hamba Tuhan tamu dari Amerika dan India berkhotbah di gereja itu, di waktu yang berbeda.

Banyak orang mengatakan dua orang hamba Tuhan ini memiliki karunia khusus. Setelah berkhotbah, mereka mendoakan jemaat satu per satu. Saat giliran aku didoakan, mereka sama-sama berkata bahwa aku akan menjadi seorang gembala, hamba Tuhan penuh waktu.

Ilusi Kemenangan

Namun, peristiwa ini tidak aku percayai, karena aku merasa ini hanyalah sugesti atau pengaturan manusia. Aku tidak mau menghubung-hubungkan pengalaman itu sebagai panggilan Allah.

Panggilan Allah yang Melampaui Kegagalan Kontributor, Panggilan Panggilan Allah yang Melampaui Kegagalan – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Secuplik dagangan donat yang sempat aku geluti

Aku tetap melanjutkan rencana hidupku sendiri. Namun, seperti yang aku ceritakan kegagalan terus berdatangan. Sampai pada akhirnya, aku memperoleh usaha kecil yang sempat aku banggakan, yaitu usaha dagang donat.

Saat usaha itu berjalan, aku merasa diri sudah menang dan benar. Aku merasa telah membuktikan bahwa pengalamanku yang seakan-akan Allah memanggilku menjadi hamba-Nya penuh waktu adalah sebuah kekeliruan. Ya, aku menganggap Allah “keliru.”

Panggilan Allah di Tengah Kegagalan

Namun, semua itu terasa berbalik begitu cepat. Pada saat itu, keluarga besar kami mengadakan ibadah syukuran atas kelulusan keponakanku menjadi seorang polisi. Setelah ibadah, pendeta yang memimpin meminta berbicara empat mata dengan aku, ditemani keponakanku sebagai saksi.

Awalnya, aku pikir ia hanya ingin mendorong aku kuliah lagi, karena dia selalu bertanya tentang kesukaan dan bakat aku. Sampai akhirnya, aku mau berkuliah lagi dengan jurusan yang sesuai dengan minatku, dan itu bukan sebagai hamba Tuhan penuh waktu.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.

Setelah itu, aku ingin didoakan oleh pendeta ini, tapi sebelum mendoakan aku, ia tiba-tiba bertanya pelan namun tajam: “Yabes, apakah di dalam dirimu ada kerinduan untuk melayani Allah penuh waktu? Dia ingin kamu melayani-Nya.”

Pertanyaan itu menghentikan segalanya. Waktu seakan berhenti. Aku terdiam lama. Di dalam diriku terjadi kegaduhan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku telah membangun hidup dengan penolakan terhadap Allah, tetapi pertanyaan itu terlalu tepat, terlalu personal, dan terlalu selaras dengan perjalanan hidupku.

Ketika Allah sebelumnya telah menegaskan panggilan itu melalui hamba-hamba-Nya, dan aku menolaknya, pintu keberhasilan seakan-akan tertutup rapat. Sekarang, ketika aku melihat pengalamanku sebelumnya, aku sadar bahwa setiap pintu yang tertutup rapat bukanlah ketidakpedulian Allah, melainkan perlindungan-Nya agar aku tidak semakin jauh dari ambisi yang salah.

Selama ini, aku menganggap keberhasilan adalah bukti penyertaan Allah, padahal sering kali kegagalan yang menjadi alat-Nya untuk menelanjangi kesombonganku. Dengan suara bergetar, aku akhirnya mengakui bahwa di balik kemarahan dan penolakan, ada kerinduan yang selama ini aku tekan, yaitu kerinduan untuk melayani-Nya.

Allah yang Mahakuasa

Mungkin, kamu yang sedang membaca tulisanku juga sedang bergumul dengan pintu-pintu yang tertutup. Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa rencanamu selalu gagal atau mengapa doa-doamu seakan tidak dijawab.

Izinkan aku mengatakan ini dengan lembut “kegagalanmu bukan tanda Allah meninggalkanmu.” Bisa jadi, dalam kebuntuan itu Allah sedang membentukmu dan menyingkirkan segala yang menghalangimu untuk melihat rencana-Nya yang jauh lebih besar. Jangan terburu-buru melarikan diri dari keheningan-Nya, karena dalam keheningan Dia sedang membentukmu.

Terkadang jawaban yang kita cari bukan terletak pada pintu mana yang akan terbuka berikutnya, melainkan pada keberanian kita untuk mengakui apa yang sebenarnya sudah Dia tanam di dalam hati kita sejak awal.

Tentang Penulis

Picture of yabes.zalukhu

yabes.zalukhu

Yabes Nathaniel Putra Zalukhu

Mau share tulisan ini?

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments