Pelangi

Sedih, sakit, dan pelangi.
Mulai

Indahnya hanya sesaat?

Hujan adalah salah satu alasan utama terjadinya pelangi. Pelangi yang indah itu ternyata terbentuk dari sebuah peristiwa hujan entah badai petir atau hanya rintik-rintik. Ada dua sisi yang bisa kita nilai sebenarnya dari pelangi ini.

Versi podcast-nya.

Aku menulis tulisan ini karena cukup terusik saja (ga jelas ya). Well, di satu sisi memang benar demikian. Mungkin aku cerita sedikit latar belakangnya dulu. Aku adalah penggemar lagu Pelangi karya HIVI! ini. Hari demi hari, lagu ini menemani aku dan membuatku sangat tertarik, entah dengan judul dan liriknya.

Aku sempat terpikir seperti ini “Kan pelangi itu indah ya, kok bisa sih ini dijadiin ilustrasi hal yang menyedihkan? Toh di Alkitab juga ditulis perjanjian Tuhan dengan Nuh digambarkan sebagai pelangi. Apa yang salah?” Kamu pernah mikir gitu juga ga?

pelangi

Setelah cukup lama dan akhirnya hafal dengan liriknya, aku mencoba lebih memahami maksud penulis dengan arti “Pelangi” ini. Btw, lagu ini adalah lagu galau ya. Bikin baper memang dan ya bikin sedih kayak yang saya bilang barusan. Oke lanjut! Dalam liriknya, pelangi dijelaskan sebagai “yang indahnya hanya sesaat” dan sesuatu “yang terbit tenggelam.” Setelah saya pikir-pikir, ada benernya juga ya. Coba aku jelasin ya.

"Sementara"

Dalam lirik awalnya disebutkan:

Kuingin cinta hadir untuk selamanya - Bukan hanyalah, untuk sementara...

Sedih ga sih? Misal nih ya, Kita lagi suka sama orang (entah cewe ato cowo) dan udah nyaman lah intinya. Tapi dia cuma hadir sementara doang terus pergi. Kita kayak cuma jadi tempat singgah “Jangan anggap hatiku, jadi tempat persinggahanmu.”

Bayangin cuma “singgah” doang! Ketika semua terlihat indah, tapi ternyata hanya sementara. Tidak selamanya. Cocok banget ga sih sama pelangi? Apa memang arti pelangi sesungguhnya ini ya? Indahnya hanya sesaat?

Pelangi Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Hujan deras di depan rumah aku yang bikin tambah mellow

Pikiran inilah yang membawa aku pada tulisan ini. Kamu gimana? Apa sekarang juga mikirin hal yang sama? Hmmmm…. Gpp lah ada temen kalo kamu jawab “Iya.” Tapi dari perenungan lagu Pelangi ini, aku mendapat suatu yang lebih indah sebenarnya.

Walaupun jujur saya juga belum sempurna memahami ini, tapi aku ingin berbagi dengan teman-teman yang mungkin merasakan hal yang sama melalui lagu ini. Apalagi kalo teman-teman sekarang lagi galau karena diputusin pacar, ditinggal gebetan (alias di-ghosting), atau cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Cinta manusia

Ketika “cinta manusia” aku rasakan, memang itu semua indah dan aku bisa bilang itu menyenangkan. Dikasihi oleh seseorang yang spesial, perhatian yang saya damba-dambakan semua terpenuhi. Semua ini dipenuhi oleh seseorang yang aku suka, seseorang yang spesial. Pasti kamu juga pernah rasain hal yang sama kan? Jatuh cinta namanya.

Tapi, ternyata “cinta manusia” ini gagal, tidak sempurna, dan mengecewakan. Semuanya ternyata hanya sementara! Dan persis apa yang terjadi selayaknya yang ditulis dalam lirik lagu Pelangi. Kecewa ga sih? Sedih ga sih? Sangat! Ini menyedihkan. Hari-hari paling indah dalam masa-masa cinta itu seolah-olah ga ada apa-apanya dibanding ketika kita di masa paling buruk, yaitu ditinggalkan.

Ternyata cinta manusia hanya sementara. Inilah yang membawa saya pada realitas sesungguhnya dari cinta, Tuhan. Ketika aku diperhadapkan dengan cinta sementara dari manusia, aku diajak kembali untuk melihat “cinta yang sejati.” Memang benar kalo dicintai manusia itu menyenangkan, ga salah kok.

Tapi semuanya tidak bisa menggantikan cinta sejati itu. Ketika kita terpaut pada manusia, kita pasti kecewa. Ketika kita menjadikan cinta manusia menjadi yang utama dalam hati kita, apa yang kita dapatkan? Kepastian? Tidak. Malahan kesedihan dan kekecewaan.

Saya sadar bahwa pelangi memang hanya sesaat. Tapi, mengapa Tuhan menjadikannya suatu tanda bagi kita untuk diingat? Kata-kata “Sehabis hujan, ada pelangi” mungkin terdengar menghibur bagi kita. Lebih dari itu, menurut saya, ini menunjukkan hati Tuhan yang sedang bilang ke kita gini:

Kasih-Ku itu ga main-main. Ini buktinya, aku berikan pelangi. Aku taruh setelah hujan supaya kamu inget bahwa Aku mengasihimu.

Bagi Tuhan, pelangi adalah bukti kasih-Nya. Itu tanda. Kasih-Nya udah ada, tapi supaya kita inget terus makanya dikasih pelangi. Ini menetap, ga kemana-mana. Beda sama manusia, mungkin kita bisa berjanji tapi apakah sempurna? Aku rasa tidak.

Di akhir tulisan ini, apakah teman-teman bisa lihat kontras yang membedakan “pelangi”-nya Tuhan sama manusia? Dari refleksiku pribadi, aku bisa melihat perbedaannya. Melihat “pelangi” Tuhan, aku bisa merasakan kasih Tuhan. “Pelangi” manusia? Ngga selalu mengecewakan sih, tapi ngga bisa menggantikan Tuhan.

Pelangi: Manusia atau Tuhan?

Bagi kamu yang lagi bersedih, ingat ada Tuhan. Cinta manusia bisa gagal, tapi Tuhan tidak gagal mengasihimu. Salib buktinya. Saya tidak sedang berkata bahwa kasih manusia mutlak kita tolak. Tidak. Tapi apa sih yang jadi utama dalam hati kita? Jadi, sekarang kamu mau pilih yang mana? 

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments