Tulisan refleksi kesedihan.

Sudah terjadi... itu takdirmu.

Benarkah semuanya takdir?

Mulai

Jika memang semuanya takdir, maka apakah ada harapan bagi tangisanku?

Jika takdir yang menentukan, apakah pembenaran bagi kesedihanku?

Semua takdir, nasib, dan sebagainya.

Kata-kata yang seolah-olah menyatakan semuanya tidak ada jalan lain.

Alasannya sederhana… Takdir.

Jika demikian.

Apa artinya kehidupan?

Aku hanyalah seonggok daging yang telah diatur.

Tak ada artinya menangis.

Tak ada artinya kesedihanku.

Jika demikian.

Untuk apa berdoa?

Untuk apa semuanya?

Kesia-siaan belaka!

Karena semuanya sudah ditakdirkan!

Benarkah demikian?

Apakah tidak ada kehendak dalam diri manusia?

Apakah tidak ada pilihan yang bisa dilakukan?

Apakah aku hanya sebuah robot yang tak bisa berbuat apa-apa?

Kecuali dengan takdir yang aku punya?

Ternyata tidak.

Aku punya kehendak.

Aku punya pilihan.

Aku diciptakan serupa dengan gambar Allah.

Allah adalah Allah yang bebas.

Aku punya kehendak.

Aku bisa memilih.

Maka…

Aku juga bisa salah memilih.

Aku juga bisa melakukan kesalahan.

Syukur aku punya Allah!

Dalam kebebasanku, aku jatuh.

Tapi rencana Allah tidak pernah gagal.

Dia punya yang terbaik bagi aku dan kamu.

Ada harapan dalam Allah, ada alasan untuk menangis bersama-Nya.

Tak ada lagi kehidupan yang menghapuskan pilihan manusia.

Seolah-olah semua sudah ditakdirkan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Ada Tuhan.

Ada harapan.

Untuk memilih dengan penuh hikmat.

Selesai

Kejadian 50:20

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat kepada aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Bisa di-share juga nih...

Leave a Reply

Your email address will not be published.