Menjalani kehidupan di dalam dunia dengan penuh dinamikanya seringkali membuat kita terseok-seok menjalaninya. Salah satu dinamika yang paling sering kita temui sebagai manusia adalah relasi antarmanusia. Kita perlu mengakui bahwa berelasi dengan manusia bukanlah hal yang mudah, bahkan kadang menjadi yang paling sulit untuk dinavigasi.
Salah satu dinamika kehidupan yang sulit untuk dilalui adalah penolakan. Setiap kita pernah ditolak, entah dalam dunia pekerjaan, bisnis, atau relasi cinta antarmanusia. Walaupun lumrah, perlu diakui banyak dari kita kehilangan arah untuk menavigasi hidup ketika berhadapan dengan isu ini.
Ada yang marah, kehilangan semangat hidup, mencari pelarian, atau mengisolasi diri. Bagiku, itu semua adalah respons yang wajar, sebab aku pun mengalaminya. Namun, sepertinya akan menjadi tidak sehat jika kita terus berkutat dalam respons yang demikian. Bukankah hidup terlalu singkat jika kita berkutat dalam sesuatu yang buruk, padahal bisa kita maknai dengan lebih baik?
Pada tulisan ini, aku akan berbagi beberapa hal yang aku refleksikan berkaitan dengan penolakan dalam hidup, secara khusus penolakan dalam relasi antara lawan jenis. Semoga, refleksi singkat ini dapat menolongmu menavigasi kehidupan dengan lebih baik, tentu dengan pertolongan Tuhan.
Penolakan Tidak Berbicara tentang Harga Dirimu
Satu hal yang paling aku gumulkan ketika mengalami penolakan adalah harga diri. Satu waktu, aku menjalin relasi dengan seorang perempuan. Setelah kami berelasi satu sama lain, aku merasakan kedekatan yang baik dengannya. Aku mencoba membangun kedekatan dan memberikan hal baik secara tulus kepadanya.
Selang beberapa waktu kami berelasi, dia secara sepihak merasa tidak mampu menjalani relasi itu. Dia mengatakan agar kami berhenti berelasi seperti ini. Dia ingin kami tetap berteman, tetapi tidak menuju ke arah romantis (satu hal yang terlanjur aku tangkap dari sikapnya kepadaku).
Aku kadung terlanjur berpikir terlalu jauh. Apa yang dia katakan kepadaku membuatku merasa tertolak. Aku merasa tidak layak dicintai dan hanya dijadikan sebagai free-trial. Maksudnya, ketika sudah tidak cocok ya tinggal dibuang, apa susahnya (seperti free-trial dalam percobaan langganan)? Hidup seringkali memperhadapkan kita dengan realita yang demikian.
Saat itu, aku memproyeksikan ketidakmampuan orang lain itu kepada diriku. Pada akhirnya, akulah yang merasa tidak mampu dan rendah diri. Aku menjadikan orang lain sebagai parameter untuk mengukur harga diriku. Dalam refleksiku, ketidakmampuan orang lain untuk berelasi denganku saat itu bukanlah gambaran tentang hidupku yang tidak mampu berelasi.
Sebuah Alternatif
Mungkin kita juga pernah mengalami hal yang sama. Kita ditolak oleh orang yang kepadanya kita sudah punya hal-hal baik untuk dipikirkan. Penolakan itu membuat kita menjadi rendah diri dan merasa tidak layak untuk semua hal baik yang ada dalam hidup.
Namun, ada alternatif lain dari pola pikir ini. Alih-alih kita menganggap diri kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap penolakan, kita perlu melihat bahwa orang yang menolak kita adalah pihak yang bertanggung jawab atas pilihan dan ketidakmampuan mereka sendiri.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Roma 8:28
Ketika seseorang memutuskan untuk memutus relasi dengan kita, dia mungkin sedang dalam fase hidup yang tidak mudah, keengganan berelasi, atau mengejar cita-cita yang mereka pikirkan. Itu semua membuat mereka tidak mampu berelasi atau memberi ruang dengan kehadiran kita.
Sekali lagi, itu ketidakmampuan mereka, bukan kita. Bagi kita yang secara tulus memberi ruang kepada kehadiran orang lain, itu bukan masalah kita. Hanya saja, seringkali kita memproyeksikan apa yang dialami orang lain menjadi perasaan kita sendiri.
Izinkan aku untuk mengatakan hal ini, “Kamu tetap orang yang berharga, sekalipun orang lain tidak mampu menerima kehadiranmu.” Inilah alternatif yang bisa kita maknai dari penolakan. Namun, seringkali “alternatif” adalah jalan yang kurang populer. So, give it a try!
Dengan berpikir demikian, kita bisa lebih berbelas kasihan kepada orang lain. Mereka yang menolak kehadiran kita mungkin juga tidak mudah mengambil keputusan itu. Mereka pun perlu kita dukung dalam doa-doa kita, sekalipun tidak perlu memberikan sepenuhnya hidup kita kepada mereka. Toh, mereka sudah memberikan batasan dari awal, bukan?
Bertumbuh
Penolakan, sepahit apa pun itu, adalah ruang pertumbuhan yang baik. Ruang di mana kita bisa mengalami emosi intens dan berusaha menavigasi hidup di dalamnya. Tentu, bukan hal yang mudah. Kita bisa gagal melaluinya. Namun, yuk bangkit lagi!
Kamu tetap orang yang berharga, sekalipun orang lain tidak mampu menerima kehadiranmu.
Ketika Penolakan Merusak Harga Dirimu
Maknai ulang penolakan dalam hidupmu dalam terang yang lebih baik. Satu hal yang terus aku coba ingat ketika menghadapi penolakan adalah Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Penolakan yang kita alami nyata. Namun, perlindungan dan kontrol penuh Allah juga sama nyatanya. Maka, kiranya kita bisa menavigasi hidup yang sementara dan penuh dinamika ini bersama Dia ya! God is still in control. Let’s have hope in Him!