Di era media sosial seperti sekarang, informasi merupakan hal yang terlalu mudah untuk kita temui. Mulai dari lambatnya penanganan kebakaran hutan yang tak kunjung-kunjung usai, isu ijazah, dan berbagai informasi lainnya dari berbagai penjuru dunia.
Salah satu informasi yang juga sering kita temui adalah informasi “keberhasilan” orang lain. Ada orang yang upload kelulusan sarjana, beli iPhone 18 Pro Burgundy, atau foto-foto liburan di Jepang.
Apa yang terjadi ini membuatku bertanya: Kok hanya keberhasilan ya yang ditunjukkan? Bukannya manusia itu campuran dari kegagalan dan keberhasilan? Sederhana, manusia cenderung hanya ingin menunjukkan keberhasilan dari ramuan hidup mereka di media sosial, sebab kegagalan telah tersimpan rapi di buku harian mereka.
Kita memang cenderung membagikan apa yang baik-baik saja di media sosial. Kita tidak mau terlihat buruk di mata orang lain. Di tengah banjir informasi di era kini, keberhasilan menjadi bahan medsos yang paling baik untuk memenangkan lebih banyak penonton terhadap diri kita sendiri. Inilah yang membawa kita ke masalah yang selanjutnya: membanding-bandingkan diri sendiri.
Di Mana Keberhasilanku?
Banjir informasi membuat kita juga kebingungan menampilkan apa yang paling baik dalam hidup kita. Ada yang baru upload foto bareng pacar, punya bisnis baru, dapat penghargaan, dll. Semua itu membuat kita langsung bertanya ke diri sendiri, “Lalu, kalau aku, apa yang aku bisa tampilkan bagi dunia?”
Masalahnya, setiap kita memiliki perjalanan kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang di umur 25 tahun sudah menikah, ada yang baru selesai internship kedokteran sudah bisa jadi residen PPDS, ada yang bisa kuliah S-2 di luar negeri, sedangkan kita tidak berjalan dalam roda kehidupan yang sama dengan orang lain.
Akibatnya, media sosial menjadi ajang untuk menilai diri sendiri. Kita melihat pencapaian orang lain lalu membandingkan dengan diri kita sendiri. Sayangnya, sering kita menjadi terlalu keras kepada diri sendiri dengan merasa rendah diri.
Waktu Tuhan
Pagi ini aku dan rekan-rekan guru membaca Alkitab dari 1 Raja-raja 5. Pada nas ini, dikisahkan persiapan Salomo membangun Bait Allah. Satu hal yang kami renungkan di ruang guru tadi pagi adalah mengenai waktu Tuhan.
Kita mungkin bertanya, “Kenapa bukan Daud saja yang membangun Bait Allah? Kenapa harus ditunda?” Pertanyaan semacam ini sebenarnya mempertanyakan tentang “waktu Tuhan” dalam hidup manusia. Kita bertanya tentang waktu yang terbaik untuk sesuatu bisa terjadi.
Dalam perenunganku, Tuhan menunda pembangunan Bait Allah adalah cara Tuhan untuk melindungi pembangunan Bait Allah itu sendiri. Tanpa keamanan dari musuh-musuh, sepertinya akan sulit Bait Allah dibangun dengan baik (ay. 3–4). Ini pun terlihat juga melalui hubungan baik antara Salomo dan Hiram, raja Tirus.
Hal yang sama juga sering aku tanyakan ke diriku sendiri: “Kenapa yang lain sudah punya pacar sedangkan aku belum ya, Tuhan?” atau “Kok dia bisa liburan ke Jepang sedang aku tidak?” Pertanyaan jujur ini adalah pertanyaan yang manusiawi. Di saat yang bersamaan, kita perlu berhati-hati.
Kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab Tuhan punya “waktu” yang terbaik buat kita. Sebagaimana Tuhan menunda pembangunan Bait Allah demi sesuatu yang lebih baik, kita juga percaya bahwa Tuhan punya waktu yang terbaik bagi kita, sekalipun itu artinya penundaan dari apa yang kita harapkan.
Maka, berhentilah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain dari apa yang kita lihat di media sosial. Sederhana, kita sedang hidup dalam dua jalan kehidupan berbeda yang dirancang Tuhan bagi kita. Dia paling tahu jalan kehidupan apa yang terbaik bagi kita masing-masing.
Alih-alih berfokus tentang “Aku ingin seperti orang ini dan orang itu!” coba ganti dengan pertanyaan “Apa yang Tuhan harapkan aku lakukan saat ini?” Niscaya, kita bisa lebih bisa menerima hidup dalam setiap dinamikanya.
Rencana Indah Tuhan
Sebelumnya, aku sudah pernah menulis tentang kemahatahuan Tuhan pada tulisan yang lain. Teman-teman bisa cek melalui tautan berikut.
Baca Juga: Tuhan Tidak Pernah Kurang Kerjaan
Kisah lain yang bisa menguatkan kita adalah kisah Yusuf. Kisah Yusuf merupakan kisah yang penuh air mata. Keluarga disfungsi, dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, difitnah oleh isteri Potifar, dijebloskan ke penjara, dan dilupakan oleh orang yang kepadanya Yusuf telah membantunya.
Namun, di bagian akhir kisah Yusuf kita menemukan salah satu ayat paling indah dalam Alkitab, Kejadian 50:20, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
Kita pun bisa menagisi diri akibat merasa diri rendah. Kita merasa tidak puas dengan hidup hari ini yang kita jalani. Kita melihat orang lain dan bertanya, “Gak pernah ke gereja, tapi kok hidupnya enak banget ya?”
Kehidupan yang kita jalani–sekalipun buruk atau kurang elok dalam pemandangan kita–merupakan bagian dari rencana indah Tuhan yang tidak pernah gagal untuk membawa kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).
Segagal-gagalnya kita memandang diri kita, Tuhan belum selesai membentuk kita. Maka, ketika kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, ingatlah bahwa kita dicintai Kristus (Yoh. 13:34; 15:9) dan orang yang dicintai Kristus tidak akan dibiarkan-Nya.
Dia akan selalu membentuk kehidupan kita sebagaimana seorang pengrajin tanah liat yang membentuk tanah liat sesuai keinginan-Nya yang baik, demikianlah kita di tangan Allah Tritunggal yang penuh cinta. Kita tinggal percaya dan berserah untuk dibentuk oleh-Nya.
Mengasihi Diri yang Dikasihi oleh Tuhan
Maka, marilah kita lebih “sayang” dengan diri kita. Tidak semua harus kita tonton dan follow. Kalau itu toxic dan membawa kita pada perbandingan-perbandingan yang tidak perlu, ada baiknya kita memberi batasan. Dirimu berharga di mata Tuhan. Tuhan Yesus sayang sama kamu.
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
Kejadian 50:20
Sayang sekali jika kamu membanjiri dirimu dengan perbandingan media sosial yang tidak pernah ada ujungnya itu. Coba ganti perspektifmu sehingga kita tidak menekan diri sendiri dengan perbandingan-perbandingan hidup yang tidak perlu. Soli Deo Gloria!