Memasuki tahun 2026 merupakan tahun yang cukup krusial bagiku. Dari segi umur, aku mulai masuk era “quarter-life” atau umur 25 tahun. Ada yang bilang bahwa umur segini akan berhadapan dengan “quarter-life crisis.” Setelah aku jalani, memang tidak salah sih!
Memasuki tahun 2026 merupakan tahun yang cukup krusial bagiku. Dari segi umur, aku mulai masuk era “quarter-life” atau umur 25 tahun. Ada yang bilang bahwa umur segini akan berhadapan dengan “quarter-life crisis.” Setelah aku jalani, memang tidak salah sih!
Namun, KPK adalah awal mula aku terjun ke dunia pelayanan digital. Enam tahun berlalu, di tahun ini aku hendak sedikit rewind untuk melihat penyertaan Tuhan dalam pelayanan ini. Melalui tulisan ini, aku bukan hanya ingin nostalgia, tetapi juga memberikan beberapa pelajaran penting dari pengalamanku ini. Aku harap, sharing ini bisa menolongmu yang mungkin sedang bergumul untuk mulai melayani di dunia digital.
Pandemi yang “Memaksa” Aku Untuk Mulai
KPK lahir pada 29 Maret 2020 di tengah kondisi pandemi. Saat itu aku adalah mahasiswa semester 2 di STT SAAT. Masih pemula, masih beradaptasi dengan kampus teologi, aku tergolong nekat untuk memulai pelayanan rohani ini.
Tidak 100% nekat sih, karena aku tergolong orang yang suka dengan dunia teknologi. Aku suka buat konten-konten sejak SMP, baik di blog atau YouTube. Namun, konten Kristen bukanlah “pasar” yang aku geluti sejak dulu.
Saat itu sebenarnya aku mau memulai pelayanan ini bersama-sama dengan temanku. Hanya saja, akhirnya aku memulai sendiri. Salah satu faktornya ya karena pandemi yang memisahkan kami dari asrama STT SAAT tercinta. Berbekal alat sederhana, aku memulai KPK dari rumahku di tengah pandemi.
Aku ingat saat itu tidak banyak alat podcast yang aku punya, hanya microphone lavalier Boya BY-M1, ponsel Vivo V9 6GB, dan laptop Legion Y530. Sederhana, tetapi lebih dari cukup untuk memulai sebuah saluran siniar di Spotify (yang dulu masih di-host di Anchor). Episode pertama KPK berjudul, “Sedih, Sepi, dan COVID-19.” Episode yang berfokus membawa pengharapan di tengah pandemi yang melanda dunia saat itu.
Pelajaran 1: Mulai Aja Dulu
Dari pengalaman ini aku belajar, pelayanan digital tidak selalu dimulai dengan gear mewah. Aku bersyukur hari ini aku sudah punya alat perekaman siniar yang lengkap. Namun, dulu aku tidak punya alat-alat ini.
Apakah aku harus menunggu semua lengkap dulu baru memulai? Sayangnya, pemikiran begini malah membawa kita mundur di tengah dunia yang semakin maju. Maka, alih-alih bertanya tentang “Alat apa yang harus aku miliki?” tanyakan “Alat apa yang sudah aku miliki untuk bisa memulai?”
Mulai aja dulu. Jangan tunggu nanti. Selama hatimu lurus di hadapan Tuhan dan beban melayani di dunia digital menggelisahkanmu, bukankah lebih baik “mulai aja dulu”? Maka, berdoalah terus kepada Tuhan yang empunya pelayanan ini. Sebagaimana Musa juga meragukan kemampuan dirinya, tetapi menemukan kekuatan dalam panggilan Tuhan (Kel. 2:23—4:17).
Tuhan menyertai pelayanan KPK, blog, dan YouTube yang aku lakukan sampai saat ini. Sekarang, dalam pertolongan Tuhan, aku sudah punya alat-alat produksi yang lengkap. Namun, sekali lagi, semua itu dimulai dari alat-alat sederhana. Dimulai dengan keyakinan: Aku mau melayani Tuhan di dunia digital.
Jangan sampai kita terhenti karena masalah gear yang kurang lengkap atau kurang canggih. Alat-alat ngonten bukan penghalang untuk kita mulai. Gunakan dulu apa yang sudah ada, sembari berdoa agar perlahan kelak kita bisa upgrade alat satu per satu. Intinya, mulai aja dulu!
Aku sangat bersyukur memulai pelayanan digital enam tahun lalu dan bukan sekarang. Jika baru mulai hari ini, sepertinya aku sudah banyak ketinggalan. Maka, jangan tunda-tunda lagi jika kamu ingin mulai melayani. Buang rasa takutmu, sebab kalau kamu mau melayani Tuhan, untuk apa takut?
Pelajaran 2: Pentingnya Fokus Pelayanan
Enam tahun menggeluti pelayanan digital aku belajar satu hal penting, fokus pelayanan. Mau dibawa ke mana pelayanan digital ini? Sejak merintis The Westminster Room di tahun 2025, aku merasakan betapa krusialnya pertanyaan ini ditanyakan di awal, alih-alih dibiarkan “mengalir” seiring berjalan waktu.
KPK dimulai tanpa memikirkan pertanyaan ini dengan serius, wajar aku masih pemula saat itu. TWR dimulai dengan fokus yang jelas, membagikan kekayaan historis-teologis kekristenan secara umum dan Protestantisme secara khusus. Ini menolong aku untuk membuat konten-konten apa yang sesuai dengan platform ini.
Maka, jika kamu sekarang hendak memulai pelayanan digital, coba tanyakan juga tentang fokus pelayanan yang hendak kamu mulai. Apakah target “pasar” yang hendak kamu sasar? Anak muda? Orang yang suka belajar? Lalu, tema utama apa yang hendak kamu bawa? Musik? Teologi? Sejarah?
Tanyakan hal-hal ini dan coba tuliskan dalam satu kalimat. Misalnya, TWR punya satu visi utama, “The Westminster Room adalah platform digital untuk menelusuri kekayaan historis dan teologis dari kekristenan secara umum dan Protestantisme secara khusus.” Satu kalimat ini aku taruh di semua media sosial TWR untuk menunjukkan kesatuan visi dari platform ini.
Tetapi, TUHAN berfirman kepadanya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan mengajarkan apa yang harus kau katakan."
Keluaran 4:11—12
Beberapa pertanyaan berikut dapat menolongmu untuk merenungkan tujuan pelayanan digitalmu:
- Tanya ke Tuhan, “Tuhan, apa yang Engkau inginkan aku kerjakan di dunia digital?”
- Tanya ke dirimu sendiri, “Topik apa yang kalau aku bahas itu, aku senang dan tanpa sungut-sungut membahasnya?”
- Dalam bentuk apa aku mau coba mulai? Apakah lewat konten Instagram, YouTube, blog, atau yang lain?
- Audiens apa yang ingin aku jangkau bagi Kristus? Orang-orang apa yang menggerakkan hatiku untuk melayani mereka melalui media digital?
Pelajaran 3: Jangan Lupa Belajar Alkitab
Sebagai seorang content creator Kristen, jangan lupa belajar dan mencintai Alkitab. Alkitab adalah “the only infallible rule of faith” bagi kita orang Kristen. Maka, bacalah dan pelajari firman Allah dengan sungguh-sungguh.
Aku menyarankan kamu untuk membaca Alkitab dengan rutin, bacalah buku-buku Kristen yang sesuai dengan topik pembahasan yang hendak kamu geluti di pelayanan digital ini. Jika kamu minta saranku untuk buku-buku apa yang perlu dibaca, aku punya beberapa saran berikut:
- Radical – David Platt
- Brothers, We Are Not Professionals – John Piper
- Katekismus Heidelberg
Sumber-sumber di atas merupakan tulisan-tulisan dasar tentang iman Kristen dan spiritualitas Kristen yang baik untuk menolong kita memaknai hidup kita sebagai seorang percaya. Aku yakin itu akan memberikan framework yang baik sebelum kamu mencoba membaca buku-buku Kristen yang lain.
Khusus buku John Piper yang aku rekomendasikan, buku itu sebenarnya ditujukan untuk para rohaniwan sepertiku. Namun, sepertinya juga cocok untuk dibaca oleh siapa saja karena punya prinsip-prinsip yang baik untuk dimaknai bersama.
Hati-hati Menyesatkan
Aku menyarankan untuk kita tetap belajar Alkitab dan teologi karena banyak pelayanan digital hadir untuk menyesatkan banyak orang. Tidak semua yang ada di media sosial sedang menyampaikan kebenaran.
Ingatlah nasihat Rasul Paulus, “Awasilah dirimu sendiri dan ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1Tim. 4:16).
Baca Juga: Content Creator, Jangan Abaikan Hal Ini!
Enam tahun melayani di media digital juga tidak menutup pintu bagiku untuk menghapus konten-konten yang sudah pernah aku unggah sebelumnya. Mengapa? Aku sadar ada beberapa poin pengajaran yang sudah tidak relevan atau tidak sejalan dengan kebenaran yang terus aku pelajari hari demi hari. Tidak apa-apa kalau kita sempat salah, tetapi jangan hidup dalam kesalahan itu.
Penutup: Tidak Ada yang Instan
Pelayanan digital bukanlah pelayanan yang instan. Jangan berharap terkenal, tapi berharaplah agar kamu tetap setia dalam kebenaran firman Tuhan. Kesetiaan adalah kunci pelayanan digital yang lebih utama dari ketenaran.
Awasilah dirimu sendiri dan ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
1 Timotius 4:16
Mari menjadi seorang pelayan Tuhan di dunia digital yang setia pada kebenaran firman Tuhan, hati yang mau dikoreksi, dan dengan sabar melayani di era ini. Semoga tulisan yang singkat ini dapat menolongmu untuk memulai melayani di dunia digital ya.
Pelayanan digital yang aku lakukan selama ini, aku biayai sendiri. Jika kamu mau mendukung pelayanan digital yang aku lakukan, silahkan klik tautan di bawah ya.