Saya coba bagikan apa yang saya dan teman saya pikirkan tentang kebahagiaan di rumah saat pandemi ini.

Tulisan ini adalah kolaborasi dengan teman saya, Samuel Nicholas.

Dalam rangka IGNITE Writing Competition.

PUISI AWAL

Gelisah hati melihat semua yang terjadi

Rasa tak tenang tak dapat dihindari

Rutinitas semula kini berganti

Hilang, pergi, diganti isolasi

 

Suasana keramaian kini telah hilang

Hanyut terbawa angin kesunyian

Hanya bilik kamar yang bisa dipandang

Hati berteriak menyatakan kerinduan

 

Kini semua berganti kesendirian

Adaptasi jadi tak terelakan

Bekerja di rumah pun tak terhindarkan

Hanya ini satu-satunya jalan

 

Risau dan cemas mewarnai hari

Kesedihan datang tiada henti

Tapi ‘ku yakin hanya sementara

Tak akan bertahan selamanya

LANJUT

Work from Home. Bekerja dari Rumah.

Bekerja di rumah adalah suatu kegiatan yang asing sebelum tahun 2020. Bekerja di rumah yang kami maksud di sini bukanlah suatu kemajuan akibat teknologi tapi sebuah “pembatasan” akibat suatu wabah. Entah mengapa kegiatan ini terjadi di tahun 2020. Padahal 2020 adalah tahun di mana peradaban manusia sudah begitu maju. Pernahkah kita mendengar slogan “dunia dalam genggamanmu”? Slogan ini ternyata benar adanya dengan kehadiran ponsel pintar (atau bahasa kerennya smartphone). Belum lagi adanya pesawat terbang, mobil listrik, dan yang lain. Ini semua bukti kemajuan peradaban kita saat ini, bukan?

panggilan menjadi hamba tuhan panggilan sebagai hamba tuhan kesaksian panggilan menjadi hamba tuhan hamba tuhan adalah hamba tuhan
Foto oleh Kaboompics dari Pexels

Tak ada dunia sedekat dulu.

Tapi kenyataan manis ini harus “terhenti” secara masif pada 2020. Tahun ini peradaban manusia seakan “terhenti” oleh sesuatu yang anak-anak kita akan kenal nantinya sebagai COVID-19. COVID-19? Apakah ini semacam seri bom atom? Ataukah ini sejenis senjata mematikan dari dunia alien? Bukan! COVID-19 atau Coronavirus disease-2019 adalah pandemi yang diakibatkan virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal sebagai virus corona. Belum adanya vaksin dan begitu cepatnya virus ini menyebar membuat dunia ketakutan. 

Semua dari rumah.

Melakukan pekerjaan dan seluruh kegiatan di rumah memang menjadi momok bagi kebanyakan orang. Seperti gambaran puisi di atas, kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini adalah “gelisah”. Kebanyakan orang merasa jadi tidak produktif karena bingung harus melakukan apa. Memang mungkin ada pekerjaan-pekerjaan yang dibawa pulang dan dikerjakan di rumah. Juga bagi yang bersekolah atau sedang kuliah, kini dapat belajar di rumah. Namun ini tetap mengubah kebiasaan dan tatanan yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Akhirnya terjadi banyak perlambatan di mana-mana akibat adaptasi yang tidak mudah. Namun ternyata tidak semua hal menjadi begitu buruk. Masih banyak hal yang harus disyukuri ketika kita bekerja dan banyak melakukan kegiatan di rumah. Justru momen-momen yang jarang terjadi ini dapat mengingatkan kita akan beberapa hal berikut.

1. Bisa menikmati waktu bersama keluarga.

Momen kesibukan di luar rumah seringkali membuat kita lupa akan komunitas kecil yang sudah Allah sediakan di rumah kita. Padatnya aktivitas itu juga membuat kita sering menghiraukan mereka. Saat-saat seperti ini membuat kita bisa sejenak melupakan atau mengurangi aktivitas dan kesibukan kita untuk bisa menikmati waktu bersama keluarga kita. Setidaknya waktu untuk bisa berbincang-bincang di ruang keluarga menjadi kebahagiaan kecil yang mungkin sudah lama hilang, bukan?

2. Punya waktu untuk “hiatus” dari dunia yang semakin cepat.

Tanpa kita sadari dunia kita yang semakin maju juga menuntut kita untuk semakin cepat dalam mengerjakan banyak hal. Dunia yang semakin cepat juga dengan tuntutannya ini sebenarnya membuat kita kelelahan. Kelelahan ini mungkin kadang tidak kita sadari. Setidaknya berkegiatan di rumah dan mengurangi banyak aktivitas membuat diri kita juga bisa beristirahat sejenak dan kembali mengisi ulang daya kita untuk kembali lagi ke dunia nanti. Energi yang kembali diisi ulang ini juga menjadi happiness from home yang wajib untuk kita syukuri.

3. Bumi yang semakin bersih.

Bumi kita sudah menjadi semakin kotor dengan bertambahnya populasi manusia. Semakin meningkatnya populasi dan semakin majunya peradaban membuat semakin banyak pula yang menggunakan sumber daya dan akhirnya bumi menjadi rusak dan kotor. Dengan tinggal di rumah dan mengurangi beberapa kegiatan tentunya membuat bumi kita bisa kembali bernafas sejenak lagi. Bukan “kebahagiaan bumi” ini seharusnya menjadi kebahagiaan kita juga?

Sedih, Sepi, dan COVID-19.

Saya juga buat podcast tentang topik ini.

Sekali lagi, tidak dapat dipungkiri bahwa COVID-19 membawa kesedihan bagi kita semua. Mungkin terlepas dari hal-hal di atas kita akan tetap mengeluh. Mungkin juga kita berpikir, “Kenapa ya Tuhan harus ada kesedihan ini?” atau “Adakah kebaikan dari semua ini?” Tapi pernahkah kita terpikir tentang kesedihan yang terjadi 20 abad yang lalu? Kesedihan ini begitu besar sampai-sampai bukan hanya bumi yang berduka tapi sorga juga. Anehnya, kesedihan yang sungguh besar ini ternyata membawa sukacita yang luar biasa bagi kita semua!

Salib Kristus.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Roma 8:28

Salib Kristus jawabannya. Entah terpikir atau tidak, salib Kristus adalah penderitaan dan kesedihan terbesar yang dirasakan Yesus yang ternyata membawa sukacita besar pada umat manusia yaitu keselamatan kita dari dosa. Lalu apa hubungannya dengan COVID-19? Jika hari ini kita berpikir Tuhan itu jahat dan tidak ada kebaikan dari pandemi ini, maka kita harus kembali melihat peristiwa salib ini (apalagi kita baru memperingati Paskah). Bukti kasih yang Tuhan berikan bagi kita yaitu pengorbanan Tuhan Yesus membuat kita bisa percaya ada kebaikan dari setiap kejadian yang terjadi di dunia ini termasuk melalui peristiwa pandemi COVID-19.

Bagaimana sekarang?

stt saat malang, pendaftaran stt saat malang, alamat stt saat malang, asrama stt saat, jurnal stt saat, akreditasi stt saat malang
Foto oleh Dan Whitfield dari Pexels

Dengan tinggal di rumah dan mengurangi banyak pekerjaan ternyata memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk merenungkan pengorbanan Kristus ini. Inilah sukacita besar yang kita dapat ketika kita berada di rumah dan mengurangi banyak aktivitas dan kegiatan kita. Penderitaan Kristus di atas kayu salib telah membawa sukacita bagi kita. Bukankah sekarang adalah waktu yang paling tepat bagi kita secara pribadi untuk dapat merenungkannya? Inilah kebaikan terbesar yang merupakan anugerah Allah bagi kita ketika kita berada di rumah. Apalagi kita baru memperingati Paskah, bukan?

 

Bagaimana? Kegelisahan ataupun kesedihan kita di rumah, walaupun tidak mudah ternyata membawa suatu happiness dalam hidup kita bersama. Sekali lagi tidak dipungkiri memang menyedihkan tapi dengan segala kebaikan Tuhan yang ada sudah sepatutnya kita mulai mengalihkan pandangan kita ke arah yang lebih produktif dan positif. Ingatlah selalu bahwa kita punya Tuhan yang baik, yang tidak akan meninggalkan kita. Berdoalah selalu dan tetap semangat! Mulailah hari-hari berikutnya di rumah dengan semangat baru dalam kasih Tuhan Yesus!

Terima kasih.

Bisa di-share juga nih...

2 tanggapan untuk “Kebahagiaan di rumah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.