Tulisan ini menceritakan perjalanan singkat dan sekedar berbagi kisah hidup, yang manis dan pahit.

6 Juni 2001 - 6 Juni 2020

Tuhan mengasihiku. Bersyukur.

Berfoto dengan guru Biologi.
Ibu Renata Siringoringo, M.Pd.
Teman-teman seperjuangan.
Dari sebelah kiri saya: Kirsten, Brigita, dan Timothy.
Previous
Next

Sebelum lebih lanjut, pertama-tama saya mau mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang sudah mengasihi saya dan memberkati saya dengan umur yang baru, 19 tahun. Kepada keluarga, teman-teman, dan semua orang yang telah mendukung dan mendoakan saya, Tuhan yang akan memberkati dan memelihara kalian juga. Mungkin tulisan ini tidak tepat saya tulis tanggal 6 Juni karena memang saya cukup sibuk (sekali). Saya mulai menulis tulisan ini pada pukul 00.08 WITA tanggal 7 Juni. Jadi anggaplah, supaya feel-nya masih ultah-ultah gitu, masih tanggal 6 Juni.

LANJUT

Santai aja ya, ini bukan paper akademis yang nanti dimasukin di Academia.edu atau Google Scholars.

Lebih cocok masuk majalah edukasi kayaknya.... Bobo maksudnya.

Di dalam tulisan ini, saya ingin berbagi sedikit cerita kehidupan (jangan serius) saya sampai di umur 19 tahun ini. Banyak hal yang terjadi lah… Makanya saya pikir mungkin bagus juga kalo saya tulis di sini, walaupun mungkin bukan seperti biografi lengkap. Santai aja ya, ini bukan paper akademis yang nanti dimasukin di Academia.edu atau Google Scholars. Lebih cocok masuk majalah edukasi kayaknya…. Bobo maksudnya. Lanjut!

TK - SD

Seperti yang saya sudah bilang sebelumnya, saya lahir tanggal 6 Juni 2001 (seperti Soekarno) di kota Tinutuan (a.k.a Manado). Saat itu orang tua saya, khususnya papa, ditugaskan di Manado. Papa saya bekerja di Charoen Pokhpand dan resign tahun 2011. Kedua orang tua saya Kristen Protestan maka saya juga demikian. Saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi sekitaran kelas 6 SD dalam sebuah Sekolah Alkitab Liburan. Itu mungkin perkenalan singkat saya ya.

Ini kakak saya.
Pas masih kecil.
Ini udah gede.
Nama kakak saya: Ananta Dian Pratiwi.
Previous
Next

Bagaimana kehidupan TK teman-teman?

Penting banget ya pertanyaannya 🙂

Seperti pada umumnya, saya sekolah lengkap. Maksudnya dari TK-SMA. Saya terkenal cukup nakal di TK. Tak terlupakan dan begitu membekas adalah saya ingat kalo saya pernah mencuri mainan teman saya. Nangis di depan guru-guru karena ketauan dan (seinget saya) katanya mau dilaporin Polisi. Dasar masih TK. Btw, saya TK di TK Kristen Eben Haezar Manado selama 2 tahun. Kalo teman-teman gimana TK-nya? Semoga ga nakal ya (semoga…).

panggilan menjadi hamba tuhan, panggilan sebagai hamba tuhan, kesaksian panggilan menjadi hamba tuhan, hamba tuhan adalah, hamba tuhan
Ini keluarga saya.

Disuruh makan cabe karena menghina guru?

Ini pengalaman yang berharga bagi saya untuk lebih menghargai mereka. Terima kasih guru 🙂

Lanjut ke Sekolah Dasar. Masih di sekolah yang sama. Iya maksudnya bukan masih TK, tapi emang yayasan sekolah saya ini punya TK sampe SMA. Jadi, saya sekolah di SD Kristen Eben Haezar 2 Manado. Temen-temen pernah SD kan ya? Panjang lo SD itu, 6 tahun! Coba inget-inget kenangan apa yang pernah dilakuin di SD? Lompat dari jendela untuk keluar kelas? Tendang perut temen? Berkelahi? Disuruh makan cabe karena menghina guru? Maaf saya lagi bilang apa yang saya lakuin dulu (hehehehe). Mungkin ga separah kalian ya 🙁 Ehhh kok sedih sihhh… Ini semua kenangan yang indah dan pelajaran yang berharga. Tersenyumlah 🙂

 

Di SD banyak yang saya alami. Bisa dibilang cukup menyenangkan masa-masa SD ini. Main Counter-Strike di lab. komputer sekolah, main bola, kejar-kejaran sampe basah kuyup. Bahkan kisah cinta, semua saya alami di sekolah dasar. Inget belum ada logo OSIS-nya ya hahahaha. Di SD, saya juga memiliki prestasi (puji Tuhan) cukup baik. Peringkat 3 besar kelas lah ya. Walaupun saya akui, saya nakal dulu.

SMP NIH

Masuk SMP.

Bersyukur.

bima anugerah
Ini saya pas SMP. Maaf bajunya agak beda. Itu bukan mau nyari jodoh (eh maksudnya pekerjaan) tapi abis selesai latihan penamatan.

Lanjut lagi! Saya masuk SMP. Masih di sekolah sama (udah ngerti lah ya, ga usah dijelasin lagi). Masa SMP seperti masa yang cukup sulit bagi saya. Mungkin karena transisi dari SD ke SMA ya. Intinya saya nggak terlalu berani tampil di depan banyak orang, cukup culun juga, dan tidak senakal di SD (puji Tuhan). Bahkan untuk masuk OSIS pun harus dipaksa dulu. Itupun pas udah kelas 3 SMP jadi ga bisa masuk kepengurusan inti OSIS 🙁 Mungkin satu hal yang membanggakan adalah masuk OSN IPS sampai tingkat provinsi di kelas 7 SMP dan menjadi juara umum 1 seangkatan pada kelas yang sama 🙂 Lanjut ke SMA aja ya…

Teman-teman SMP.
Kelas 9F. Di SMP ganti-ganti kelasnya tiap tahun.
Kenangan.
Previous
Next
LANJUT SMA

Jadi Ketos.

Masa SMA adalah masa yang paling indah (sekarang udah bukan di sekolah yang sama). SMA Negeri 9 Binsus Manado. Ya Binaan Khusus (Binsus), salah satu sekolah negeri unggulan di Sulawesi Utara (katanya). Tapi bener kok 🙂 Di SMA saya berkesempatan menjadi Ketua OSIS di kelas 11 SMA. Ketika flashback ke belakang saya mikir “Kok bisa ya dulu di SMP ikut OSIS harus dipaksa, sekarang malah jadi ketuanya -_-“. Saya pun ikut OSIS dari kelas 10 (alias jadi bawahan kakak tingkat dulu). Dan naik jadi calon Ketos (bahasa keren ketua OSIS) bersama teman perempuan saya sebagai wakilnya di kelas 11. Puji Tuhan saya menang di antara 3 kandidat yang tersedia.

Kenangan.

Selain itu, banyak prestasi saya raih di SMA. Seperti mewakili provinsi Sulawesi Utara di FLS2N Tingkat Nasional di Banda Aceh, tahun 2018. Saya dulu ikut desain poster putra. Saya juga pernah salaman sama pak Jokowi langsung (bangga banget kan) sebagai salah satu perwakilan Ketua OSIS dari Sulawesi Utara di Apresiasi Kebangsaan Siswa Indonesia (AKSI) 2018. Atau ikut Asian Science Camp 2018 yang kebetulan tuan rumahnya kota Manado. Walaupun demikian, masa SMA saya adalah masa tersulit bagi saya di bidang akademis. Masuk jurusan IPA, saya harus akui bahwa Fisika dan Matematika menjadi problem of evil bagi saya. Ini adalah penderitaan. Masalah cinta? Cukup rumit dan mungkin butuh tulisan yang lain.

KULIAH

STT SAAT.

Teman-teman kamar pertama saya di STT SAAT, PA 206.

Sekarang saya kuliah di sekolah Alkitab atau lebih umum dikenal “sekolah pendeta” (walaupun ya kurang tepat juga sih). Saya kuliah di STT (bukan Sekolah Tinggi Teknik tapi Sekolah Tinggi Teologi) SAAT. Kampusnya ada di Malang tepatnya di Jl. Bukit Hermon No. 1. SAAT sendiri punya kepanjangan lo… Seminari Alkitab Asia Tenggara. Terus tinggalnya di mana? Saya gak ngekos tapi tinggal di asrama (yang puji Tuhan sangat baik). Kenapa saya masuk sini mungkin akan saya tulis di post yang berbeda :).

Pendosa besar yang dikasihi.

CUKUP YA?

Mungkin sekian ya.

Oke mungkin itu ya perjalanan singkat dari saya selama kurang lebih 19 tahun hidup di Bumi (kebetulan belum pernah ke bulan juga). Mungkin saya terlihat begitu diberkati ya :). Tenang… Saya juga banyak melakukan kesalahan, merasakan kesedihan, penolakan, dan masih banyak lagi. Intinya saya bukan orang yang sempurna. Kalo bisa pake bahasa teologi-teologi gitu, bisa disebut pendosa besar atau total depravity (sila cek di Google apa maksdunya). Tapi berangkat dari kenyataan inilah saya bisa ada sampai sekarang.

panggilan menjadi hamba tuhan, panggilan sebagai hamba tuhan, kesaksian panggilan menjadi hamba tuhan, hamba tuhan adalah, hamba tuhan
Mabar keluarga (makan bareng).

Tuhan Yesus sungguh mengasihi saya. Bukan hanya dalam hal berkat-berkat yang saya terima, melainkan Dia juga memberikan penerimaan kepada diri saya yang tidak sempurna ini. Kristus menebus segala dosa saya sehingga saya merasakan yang saya sebut heavenly blessed. Sebuah berkat sorgawi yang begitu luar biasa. Seperti makan Indomie goreng rasa cakalang saat lapar di tengah hari sekolah yang penat (bahkan perumpamaan ini terbatas untuk menjelaskan heavenly blessed).

panggilan menjadi hamba tuhan, panggilan sebagai hamba tuhan, kesaksian panggilan menjadi hamba tuhan, hamba tuhan adalah, hamba tuhan
Naik MRT sebelum COVID-19 melanda Indonesia 🙁

Dan di umur yang ke-19 tahun ini, Tuhan memberikan begitu banyak teman-teman yang sangat luar biasa! Padahal penerimaan Tuhan sudah cukup bagi saya tapi Dia malah memberi lagi kejutan-kejutan dalam hidup saya termasuk di hari ulang tahun ini. Ucapan selamat ulang tahun yang membanjiri WhatsApp dan Instagram saya (sampai-sampai bingung sendiri), kebersamaan bareng keluarga, atau kiriman makanan dari teman-teman dekat (dan orang yang spesial… ups) membuat saya begitu bersyukur kepada Tuhan. Tuhan menunjukkan kasih-Nya lewat teman-teman dan keluarga yang mengasihi saya.

KESIMPULAN

Tuhan mengasihimu. Ayo mengasihi!

Inilah kisah saya. Bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan. Sungguh bersyukur. Di tengah segala kesedihan, ada penghiburan yang Dia berikan bagi saya. Ada banyak hal yang Tuhan ajarkan dalam hidup saya (khsusnya di umur yang baru ini). Salah satunya mengenai mencintai (atau mengasihi lah ya, barangkali ada yang sensitif dengan kata ini wkwkwk). Mencintai tidaklah harus dalam dekat. Teknologi membuat saya bisa belajar bahwa “Bima, kamu bisa mencintai dia yang jauh di sana seperti serasa hanya terpisah beberapa cm saja…”. Artinya, kasih sebenarnya tidak terbatas oleh tempat. Bahkan teknologi sudah sangat membantu kita semua bukan?

Saya akan tutup tulisan ini. Mungkin lebih banyak sharing perjalanan hidup ya (maaf). Tapi dari sini saya ingin berbagi bahwa “Tuhan mengasihimu sepanjang hidupmu. Ayo kita sama-sama mengasihi.”. Tuhan sudah begitu mengasihi kita semua, kapan kita mulai mengasihi Tuhan dan orang lain? Tuhan Yesus sudah mati bagi kita dan Dia juga memberkati kita di dunia ini. Luar biasa bukan? Kiranya tulisan saya ini bisa memberkati teman-teman yang membaca untuk mulai mengasihi Tuhan, kehidupan, dan sesama. 

Terima kasih.

Bisa di-share juga nih...

12 replies on “19 tahun di Bumi”

Leave a Reply

Your email address will not be published.