Mencari keselamatan lewat perbuatan baik? Emang bisa?

Long Ampung – 4 Juli 2022

Ketika menjalani masa PKLDB (Praktik Kerja Lapangan Dua Bulan) aku di GKII Long Ampung, Kalimantan Utara, aku banyak mendapatkan kesempatan membawakan khotbah di ibadah-ibadah kategorial. Dalam salah satu kesempatan, aku membawa khotbah dari surat Galatia tentang kebenaran dalam Kristus, bukan dalam perbuatan. Dari khotbah inilah pertanyaan “Mau menyuap Allah?” muncul. Aku coba ceritakan sedikit

Dosa

Ketika ke sini, aku membawa buku “Menghidupi Injil dan Menginjili Hidup” karya Sen Sendjaya. Dari buku inilah aku mendapat perikop yang aku bawain di khotbah itu. Sedikit penggaliannya ya! Pada Galatia 5:1-15, Paulus menegur dengan keras jemaat Galatia yang mencoba mendapatkan pembenaran (atau keselamatan) lewat apa yang mereka lakukan, yaitu sunat. Sunat tentu bukan hal yang salah, tetapi motivasi di balik melakukan sunat itu yang salah. Emang apa motivasinya? Jemaat Galatia melakukan sunat agar diselamatkan Allah! Parah! Bukan tanpa alasan jemaat Galatia melakukan hal demikian. Jemaat Galatia ternyata sudah mempercayai Injil palsu (Gal. 1:6-7)! Pantas apa yang dilakukan jemaat Galatia ini nggak “Paulus” banget ya yang menekankan keselamatan karena anugerah di dalam Kristus (bdk. Ef. 2:8-9) dan bukan karena perbuatan baik.

Dari perenungan bagian firman Tuhan ini, muncullah pikiran “Kok bisa kepikiran ya jemaat Galatia mau menyuap Allah?” Kata “menyuap” ini langsung aku identikkan dengan para kriminal berdasi yang biasa menyuap pejabat pemerintah untuk melakukan tindak kejahatan. “Hah! Masa Allah disamain sama para penjahat itu! Serendah itukah Allah!?” Namun, inilah kenyataan yang terjadi di jemaat Galatia dan kita hari ini yang masih mau mencari keselamatan dari usaha kita sendiri. Kita membuat Allah seperti para penjahat berdasi itu yang mau disuap. Emang Allah siapa sih? Kok mau disuap manusia?

Kok bisa kepikiran ya jemaat Galatia mau menyuap Allah?

Mau menyuap Allah?

Siapa Allah, siapa kamu...

Padahal, Allah Tritunggal itu bukan seperti seorang manusia yang kekurangan apa-apa sehingga ia membutuhkan sesuatu. Dia tidak miskin. Dia tidak kurang kuasa. Dia tidak kurang mulia. Ngapain Allah minta-minta perbuatan baik kita? Ngapain Allah kayak jualan tiket masuk surga yang dibayar pake perbuatan baik? Ngapain woi! Ga ada kerjaan kah Allah kita itu? Alam semesta Dia yang ciptain coy! Kurang apa Allah itu? Satu jawaban yang aku dapat dari pertanyaan “Mau menyuap Allah?” adalah “GAK MASUK AKAL!” Orang-orang yang berpegang pada prinsip menyuap Allah ini, bagi aku, kurang akal sehatnya. Secara rasio manusia aku rasa ga masuk akal, begitu juga dengan pengajaran Alkitab tidak sejalan dengan prinsip ini. Lalu mengapa sampe bisa kayak begini?

Dosa. Dosa membuat manusia kehilangan arah untuk datang kepada Allah. Dosa membuat manusia menindas kebenaran, membuat manusia lebih menyukai kegelapan dibandingkan terang (bdk. Rm. 1:18-23). Di saat yang sama, dosa juga membuat manusia yang sudah mendapat anugerah keselamatan mau mengganti anugerah itu dengan sesuatu yang bukan anugerah. Seperti ini juga yang terjadi di jemaat Galatia. Mereka udah kenal Injil yang benar, tetapi entah mengapa masih aja mau pindah ke Injil palsu yang lebih menyulitkan mereka. Sampe kapan mereka mau mencari kebenaran itu dari perbuatan? Ga akan ada abisnya kan?

Anugerah

Dosa emang ga masuk akal tapi ada jalan keluar! Kristus-lah jalan keluarnya!

Mau menyuap Allah?

Aneh ya? Udah dikasih kebenaran yang memerdekakan masih aja mau nyari yang membelenggu mereka. Dosa emang ga masuk akal tapi ada jalan keluar! Kristus-lah jalan keluarnya! Kristus memberikan jalan keluar bagi manusia berdosa agar mereka dapat kembali melakukan kehendak Allah dalam hidupnya dan mendapatkan kehidupan kekal itu. Kebenaran-Nya yang ditransfer kepada kita orang berdosa sehingga orang berdosa dapat dibenarkan di hadapan Allah. Inilah Injil! Bukan karena perbuatan kita diselamatkan tetapi karena iman kepada Kristus. Kita perlu terus diingatkan akan kebenaran ini karena kita pun rentan untuk jatuh sama seperti jemaat Galatia. So, gimana? Masih mau menyuap Allah?

Bisa di-share juga nih...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.