Tuhan tidak pernah kurang kerjaan

Tuhan sayang sama kamu
Mulai

Guys, pernah baca Matius 10:30? Ayatnya berbunyi demikian, “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.” Setelah baca ayat ini aku berpikir, “Tidak ada orang di dunia ini yang waktu hidupnya terlalu kosong sehingga mau menghitung jumlah rambutnya sendiri!” Mungkin ada, tapi tidak banyak. Aku teringat dulu ada video live TikTok yang viral karena ngitungin beras per butir. Terlintas di pikiranku, “Ni orang ngapain ya ga ada kerjaan banget!”

Sepertinya, alasan mau viral dan mendapatkan keuntungan membuat segelintir orang mau membuat konten demikian. Namun, gimana kasusnya sama Matius 10:30 yang bilang kalo Tuhan ngitungin jumlah rambut kita semua? Apakah Tuhan juga “kurang kerjaan” dan mau nyari viral? Well, tidak demikian teman-teman. Sebelum lanjut, aku pengen bilang kalo tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku sebelumnya, Tuhan Tidak Pernah Tidak Baik – Bima Anugerah, so temen-temen bisa cek juga tulisan sebelumnya ya!

Tuhan kurang kerjaan?

Tuhan tidak pernah kurang kerjaan. Lalu, kenapa Matius 10:30 bilang rambut kita terhitung semuanya? Sederhana, Tuhan Yesus ingin murid-murid-Nya tidak takut akan kehidupan yang serba tidak menentu ini. Di tengah ketidakpastian, ketidaktahuan, dan keterbatasan manusia, Tuhan ingin bilang ke kita, “Rambutmu udah selesai Aku hitungin. Udah, tenang, semuanya ada dalam kendali tangan kasih-Ku.” Indah ya?

Indah banget! Tuhan bukannya kurang kerjaan terus ngitungin jumlah rambut di kepala kita. Namun, Dia tahu betul jumlah rambut di kepala kita karena Dia ingin menunjukkan kasih-Nya kepada kita! Kok bisa? Jumlah helai rambut adalah hal paling diabaikan dalam hidup ini, bukan? Nggak ada manusia di dunia ini yang nanya jumlah rambut ketika bikin iklan lowongan pekerjaan. Dengan mengetahui jumlah rambut kita, Tuhan ingin menunjukkan bahwa hal yang paling diabaikan dalam hidup kita ada di dalam kontrol tangan Tuhan.

Terpanggil menjadi hamba Tuhan?

Kita sering berpikir bahwa Tuhan hanya mengurusi “hal-hal besar” dan melupakan “hal-hal kecil” dalam hidup kita. Kita sering bepikir bahwa masalah perang, pemilu, ekonomi, dan hal-hal besar lainnya adalah satu-satunya yang diurusin Tuhan. Namun, sepertinya tidak dengan hal-hal berikut: minyak goreng yang dipakai memasak telur, pasta gigi yang kita pakai setiap pagi, kuota internet untuk nonton YouTube, token listrik buat nyalain kipas angin, pasangan hidup yang belum nemu-nemu, kabel charger HP, dan bahkan setiap pakaian yang kita pakai setiap hari.

Padahal, entah hal besar atau kecil, diabaikan atau dianggap penting, semuanya ada di dalam kontrol tangan Tuhan. Artinya, kita bisa benar-benar tenang bahwa Tuhan peduli dengan kehidupan kita, bahkan dalam hal-hal terkecil, yang paling diabaikan sekalipun.

Kita nggak mahatahu guys...

Siapa yang tahu jumlah rambut kita? Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan kita sendiri pun tidak tahu. Namun, Tuhan tahu jumlahnya. Kenapa? Karena Dia mahatahu. Kasih-Nya bukan hanya dinyatakan dalam hal-hal yang sering terabaikan dalam hidup, tetapi juga dalam kemahatahuan-Nya.

Tuhan tahu hal-hal yang paling sulit untuk dihitung (seperti jumlah rambut kita) untuk menunjukkan kuasa-Nya. Kita yang mengetahui kenyataan ini seharusnya semakin tersadar betapa terbatasnya pengetahuan manusia dibandingkan Tuhan. Lalu, apa maksudnya?

Guys, aku yakin teman-teman pernah dan sering mempertanyakan Tuhan atas sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Namun, sadarkah kita bahwa pengetahuan Tuhan yang lengkap dan sempurna itu tidak ada bandingannya dengan pengetahuan kita yang sempit dan terbatas ini?

Ketika kita mempertanyakan Tuhan atas situasi yang terjadi dalam hidup, kita sedang menunjukkan kegagalan kita memahami sebuah situasi yang di luar kemampuan pengetahuan kita. Kita tidak mahatahu guys. But, it’s okay. Tuhan menerima kita dalam segala keluh kesah kita kok.

Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat? Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

Kita sering gagal paham situasi yang terjadi dalam hidup kita. Bukan karena Tuhan kurang paham, kita-lah yang kurang paham. Yesaya 40:13-14 dengan jelas menunjukkan kepada kita betapa sempurnanya pengetahuan Allah. Lalu siapakah kita sok tahu di hadapan Tuhan? Jadi, ketika kita tidak tahu apa alasan sesuatu hal terjadi dalam kehidupan kita, mulailah berefleksi bersama Tuhan bahwa manusia tidak tahu apa-apa.

Bawalah dalam doa segala kekuatiran dan ketidakpahaman kita di hadapan Tuhan. Hindarilah sikap-sikap yang “sok tahu” dan sombong di hadapan Tuhan. Namun, kalau kita terlanjur melakukan itu semua, toh Tuhan tetap menerima kita di dalam anugerah-Nya yang besar itu. Yuk datang ke Tuhan guys!

Tuhan mengetahui semuanya dan Dia tidak kurang kerjaan. Dia paham betul apa yang terbaik bagi kita karena Dia mahatahu dan memegang kendali pada hal-hal yang sering diabaikan dalam hidup ini. Dia benar-benar tahu masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Dengan hati-Nya yang penuh belas kasihan itu, Dia merancang kehidupan kita dengan sebaik mungkin sesuai kehendak-Nya yang sempurna. Ketika kita gagal paham apa yang terjadi dalam hidup ini, kita harus mengakui kalau kita tidak tahu banyak. Maka dari itu, ketidaktahuan ini seharusnya membawa kita kepada Allah yang mahatahu itu.

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun tidak ada harapan atau ekspektasi aku yang terwujud. Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun aku kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku. Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun aku tidak paham mengapa Dia berbuat demikian. Tuhan tidak pernah tidak baik, kiranya ini yang aku pegang sampai mati. Sekarang, apa definisi “baik”-mu? Aku harap kita bisa belajar menyamakan definisi “baik” kita dengan Tuhan. Baca juga tulisanku selanjutnya di seri ini, Tuhan Tidak Pernah Kurang Kerjaan – Bima Anugerah. […]