Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa?

Sebuah refleksi dan ajakan terhadap bumi yang kian rusak.
Mulai
Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa? Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Ilustrasi polusi udara Jakarta (Sumber: medcom.id)

Beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan berita polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. Ngga main-main, polusi udara di sana sudah melebihi ambang batas standar udara bersih yang dibuat oleh WHO. Dilansir dari situs IQAir pada hari Senin (4/9/23), kualitas udara di Jakarta diberi skor AQI US 159 dengan polutan utama PM2.5. 

Untuk diketahui, skor AQI US 159 adalah skor yang dikategorikan sebagai “Tidak Sehat,” lalu konsentrasi polutan PM2.5 yang ada di Jakarta (71.2µg/m³) adalah 14.2 kali lebih buruk dari nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.[i] Maka wajar jika kasus ISPA di Jakarta meningkat belakangan.[ii]

Dari angka-angka yang bikin pusing di atas, satu pesan yang ingin disampaikan dari berita tersebut adalah: Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Jika ditarik lebih jauh lagi, berita polusi udara di Jakarta sebenarnya mengisyaratkan bumi yang sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin kita bisa berpikir, “Kan itu di Jakarta doang, kok bisa bilang ‘Bumi sedang tidak baik-baik saja?’ Lebay lu!” Loh, kalian yang ngomong begini punya Instagram tidak? Baca berita ga sih? Di tengah dunia yang sangat terkoneksi begini, bisa-bisanya ada yang ngomong “lebay” ketika aku bilang bahwa “Bumi sedang tidak baik-baik saja”?

Great Pacific Garbage Patch

Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa? Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
The Ocean Cleanup

Pernah tau istilah GPGP? GPGP adalah singkatan dari Great Pacific Garbage Patch yaitu istilah yang digunakan untuk merujuk tumpukan sampah plastik besar yang ada di Samudera Pasifik. Dikutip dari situs The Ocean Cleanup, GPGP adalah “… the largest accumulation of ocean plastic in the world and is located between Hawaii and California.”[iii]

Jangan bayangkan ini hanya tumpukan sampah plastik yang biasa dibakar sore hari. Besaran area GPGP kira-kira 1,6 juta kilometer persegi atau sekitar dua kali luas pulau Kalimantan (sekitar 740 ribu kilometer persegi). Yakin mau bakar sampah segede dua kali pulau Kalimantan?

Efek GPGP ini sangat destruktif. Biota laut yang hidup di area GPGP sangat mungkin mengkonsumsi plastik. Logikanya nih, ada ngga di antara kita yang kasih makan ikan cupang dengan botol plastik? Kita pasti menganggap hal yang demikian adalah bodoh. Nah, kayak gitu yang terjadi sekarang. 

Ikan-ikan, kura-kura, dan berbagai makhluk hidup yang ada di laut, mereka lagi “bodoh” karena makanin plastik. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka ga ada pilihan lain selain makanin plastik. Lah gimana ngga kemakan plastiknya, jumlah sampah plastiknya aja 180 kali jumlah kehidupan laut di sana.[iv]

Setelah para hewan di laut tersebut makan plastik, ujung-ujungnya manusia juga makan plastik juga. Sederhananya gini: manusia makan ikan, ikan makan plastik. Kesimpulannya, manusia makan plastik. Jika dibandingkan dengan ilustrasi orang kasih makan ikan cupang sama plastik dianggap bodoh, maka sekarang apa manusia juga bisa dianggap bodoh? 

Mana ada orang mau makan plastik! Namun, ini kenyataannya. Entah kita menolak jadi bodoh atau ngga, kenyataannya dunia kita udah makin ancur dan rusak sampe-sampe manusia makan plastik.[v]

Our earth is not okay

Tujuan aku nunjukkin fakta GPGP adalah mendukung pendapatku di awal bahwa “Bumi sedang tidak baik-baik saja.” Setidaknya ada dua bukti pendukung mengapa pendapatku ini sah: (1) polusi udara di Jakarta yang parah; dan (2) tumpukan sampah di Samudera Pasifik. Masa kita masih mau tutup mata dengan dunia yang semakin rusak ini? Pertanyaan satu juta dollar-nya: Bagaimana kita merespon sebagai seorang Kristen?

Sebagai seorang Kristen Injili, aku pikir respon kita terhadap masalah di atas bukanlah mengabaikan alam yang semakin rusak ini. Herman Bavinck dalam salah satu tulisannya tentang anugerah umum (common grace) menyatakan bahwa Tuhan secara sengaja dalam providensia-Nya mengawasi ciptaan dan manusia yang telah jatuh dalam dosa, bukan hanya bagi mereka yang dipilih (elect) tetapi bagi seluruh umat manusia.[vi]

Artinya, Tuhan kita bukan Tuhan yang meninggalkan ciptaan, seolah-olah yang ada di pikiran-Nya adalah keselamatan umat pilihan-Nya semata lalu mengabaikan ciptaan yang Ia ciptakan sendiri. Dia juga concern dengan ciptaan-Nya, masa sih kita yang mengaku diri Kristen tidak concern dengan apa yang menjadi concern-nya Tuhan?

Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa? Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
The Cape Town Commitment tergabung dalam gerakan Lausanne Movement

Selain itu, The Cape Town Commitment (TCTC), salah satu dokumen komitmen Kristen Injili, bagian 1 ayat 7A menyatakan hal yang senada, “Jika Yesus adalah Tuhan atas segala ciptaan di bumi, kita tidak bisa memisahkan relasi kepada Kristus dengan bagaimana kita bertindak terhadap bumi … Maka dari itu, mengasihi ciptaan adalah isu Injil di dalam konteks Kristus sebagai penguasa dunia.”[vii] (ini terjemahan pribadiku, kalian bisa baca langsung dalam bahasa Inggris melalui situs ini). Maka bener kalo orang Kristen dipanggil peduli dengan ciptaan lainnya karena seluruh ciptaan adalah milik Tuhan.[viii]

If Jesus is Lord of all the earth, we cannot separate our relationship to Christ from how we act in relation to the earth. For to proclaim the gospel that says ‘Jesus is Lord’ is to proclaim the gospel that includes the earth, since Christ’s Lordship is over all creation. Creation care is thus a gospel issue within the Lordship of Christ.

Apa yang disampaikan TCTC sangat menolong kita untuk memberikan respon terhadap kerusakan dunia saat ini. Gini loh, kalau kita mengaku mengasihi Kristus, kita harusnya mengasihi apa yang Dia kasihi bukan? Mengutip materi kuliah yang aku ikutin di SAAT bulan lalu, dosenku Wilson Jeremiah setidaknya memberikan tiga poin penting bagaimana kita sebagai seorang Kristen Injili bersikap terhadap isu ini:

  1. Allah dan ciptaan: Kita peduli atas ciptaan karena semuanya adalah milik Allah.
  2. Kristus dan ciptaan: Kita peduli atas ciptaan yang bukan hanya diciptakan dan ditopang tetapi juga ditebus oleh Kristus yang berinkarnasi.
  3. Roh Kudus dan ciptaan: Kita peduli atas ciptaan karena, sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita berpartisipasi dalam proyek penyempurnaan ciptaan dengan pimpinan Roh Kudus. 

Langkah kecil yang dapat kita lakukan

Melalui artikelku ini, setidaknya aku ingin membangun kesadaran bagi kalian yang baca tulisanku ini. Kesadaran apa? Kesadaran bahwa bumi yang kita tinggali sedang tidak baik-baik saja. Bumi yang kita tinggali sekarang perlu respon dari orang-orang Kristen yang mengaku mengasihi Allah Tritunggal dalam kehidupannya. Kalau kita mengaku mengasihi Allah Tritunggal, sepertinya akan janggal jika kita berhenti mengasihi ciptaan-Nya, yaitu bumi yang sekarang semakin rusak ini.

Doakan

Kita bisa mulai dengan hal yang paling sederhana: mendoakan orang-orang yang Tuhan berikan hati untuk memperbaiki kerusakan bumi. Salah satu organisasi yang bergerak di bidang ini adalah The Ocean Cleanup. Selain The Ocean Cleanup, ada beberapa organisasi lainnya, misalnya:

Mulailah baca-baca website mereka. Pahami apa yang mereka lakukan dan coba pikirkan apa yang bisa kita doakan bagi mereka.

Donasikan

Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa? Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
WWF Forests Forward

Selain mendoakan, tentu kita bisa memberikan donasi bagi mereka. Donasi uang penting bagi organisasi nirlaba seperti ini. Membersihkan sampah plastik di laut tentu butuh duit kan? Merawat hewan-hewan yang terancam punah butuh uang kan?

Jika kita diberi berkat materi oleh Tuhan, selain memberikan bagi gereja, kita bisa memikirkan untuk memberikan uang kita bagi pelayanan kepedulian lingkungan seperti ini. Jangan lupa doakan uangmu dan tentunya agar hatimu dimurnikan dalam pelayanan kepedulian lingkungan ini.

Aksikan

Terakhir, kita juga bisa terlibat langsung dalam aksi mencintai lingkungan. Mulai dari menulis artikel seperti ini (untuk mengundang kesadaran terhadap kepedulian lingkungan), berbagi tentang isu kepedulian lingkungan di Instagram atau Threads, ikut tergabung dalam organisasi kepedulian lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meng­-upgrade lampu rumah kalian dengan lampu LED yang hemat daya, menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya agar sampah tidak sampai ke laut, atau mulai mendukung penggunaan transportasi publik.

Mencintai Kristus tapi tidak dengan ciptaan-Nya. Emang bisa? Devotion, Diary – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Transportasi publik MRT (Sumber: Pexels)

Kembali ke masalah polusi udara yang ada di Jakarta, kita bisa mulai mempertimbangkan untuk menggunakan transportasi publik lebih sering dibandingkan transportasi pribadi. Mengapa? Karena sektor transportasi menyumbang polusi udara yang signifikan bagi Jakarta.[ix] 

Misalnya, ketika berpergian sendirian, daripada menggunakan mobil pribadi, lebih baik gunakan transportasi publik. Penggunaan mobil pribadi menjadi kurang ramah lingkungan karena hanya dinaiki oleh 1 orang saja, kecuali dalam jumlah penumpang yang banyak (3-4 orang).

Lalu, polusi di Jakarta juga terjadi akibat banyaknya PLTU berbasis batu bara yang beroperasi di sekitar Jakarta. Walaupun ada pro-kontra mengenai andil PLTU dalam masalah polusi udara di Jakarta, sepertinya kita semua akan setuju bahwa kita perlu memikirkan dengan lebih serius untuk beralih ke energi bersih, seperti tenaga surya atau bayu. 

Nah, kalian yang sekarang bercita-cita atau sedang menggeluti untuk menjadi seorang pejabat publik, bisa memikirkan bagaimana Indonesia dapat beralih ke energi bersih dengan lebih cepat.

Mengasihi dunia ciptaan memang tidak mudah. Aku pun masih banyak belajar melakukannya. Kiranya Allah Tritunggal yang menolong kita untuk mengasihi jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus dan mengasihi dunia ciptaan yang diciptakan oleh-Nya sendiri. Amin.

Referensi

[i] Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta dan Polusi Udara di Indonesia | IQAir

[ii] Miris! Penampakan ‘Malapetaka’ ISPA Efek Polusi Udara Jakarta (cnbcindonesia.com)

[iii] The Great Pacific Garbage Patch • The Ocean Cleanup

[iv] The Great Pacific Garbage Patch • The Ocean Cleanup

[v] The Great Pacific Garbage Patch • The Ocean Cleanup

[vi] John Bolt, Bavinck on the Christian Life: Following Jesus in Faithful Service (Wheaton: Crossway, 2015), 48.

[vii] https://lausanne.org/content/ctc/ctcommitment#p1-7. Terjemahan pribadi penulis.

[viii] Blanchard dan O’Brien dalam bukunya An Introduction to Christian Enviromentalism disadur dari skripsi Ricky Atmoko, “POHON EKOTEOLOGI INJILI: SEBUAH USULAN BIBLIS-TEOLOGIS-ETIS BAGI KEPEDULIAN ALAM KAUM INJILI” (Malang: STT SAAT, 2022), 66.

[ix] Bukan PLTU, Ternyata Ini Penyebab Utama Polusi di Jakarta (cnbcindonesia.com)

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments