Memaknai waktu, mencintai proses

Apakah waktu membuat kita makin berserah pada-Nya?
Mulai

Banyak hal di dunia ini yang memerlukan waktu untuk terwujud. Misalnya, kita perlu waktu kurang lebih 4 tahun untuk mendapat gelar Sarjana. Selain di dunia pendidikan, dalam dunia perminuman juga berlaku hal yang sama. Butuh waktu untuk mengeraskan air menjadi es batu.

Tak ayal jika banyak orang mencari hal-hal instan demi menghindari waktu. Sayangnya, mie instan yang digadang-gadang memberikan kenikmatan secara “instan,” pun perlu 3 menit untuk direbus. Lagi-lagi waktu berperan di sini.

Beberapa hari lalu, aku bersama beberapa temanku sedang berbincang-bincang di taman SAAT. Setelah sekian lama berbincang tentang masalah eskatologi Kristen (akhir zaman), eh tiba-tiba salah satu dosen kami muncul. Beliau adalah Pak Ferry Mamahit. 

Sebelum menuju ke gedung rektorat, beliau menyempatkan untuk menyapa kami. Bukan hanya menyapa, beliau ternyata ikut nimbrung dengan pembicaraan kami saat itu.

Mendengar apa yang kami diskusikan, beliau juga memberikan pendapatnya tentang isu yang sedang kami perbincangkan. Sampai di satu titik diskusi, beliau mengeluarkan sebuah istilah menarik dalam kaitannya dengan eskatologi. Istilah itu adalah “slow grace.” Istilah ini muncul untuk menjelaskan aspek waktu dari eskatologi yang kami anggap “Kok lama banget ya Tuhan datengnya?”

"Slow grace"

Kehidupan Kristen ternyata tidak terlepas dari waktu penantian. Hari ini kita semua orang percaya sedang menanti kedatangan Kristus yang kedua. Menariknya, sudah lebih dari 2000 tahun sejak kedatangan Kristus pertama kali, Dia tidak kunjung datang untuk kedua kalinya. 

Wajar jika aku dan teman-temanku banyak kebingungan tentang dunia yang akan datang itu bakal seperti apa rupanya. Namun, inilah yang dimaksud dengan “slow grace” oleh Pak Ferry.

Waktu yang lama untuk menanti kedatangan Kristus adalah cara Tuhan untuk menunjukkan anugerah-Nya kepada orang-orang yang sudah ditebus-Nya ini. Namun, anugerah-Nya ini dinyatakan secara “slow” atau “perlahan-lahan” dalam artian Dia tidak langsung datang kedua kali dalam waktu yang relatif singkat sejak kedatangan-Nya yang pertama. 

Tentu, jika dikatakan “slow,” maka istilah “instan” bakal tidak terpakai di sini. Pertanyaannya, mengapa harus menggunakan waktu yang lama?

Bima dan Pdt. Ferry Mamahit

Waktu yang lama menantikan Kristus mengajak kita melakukan penyerahan diri penuh pada Allah dalam waktu-waktu yang panjang ini. Maka tepat jika Paulus berkata bahwa “pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Ef. 5:16).

Sehingga dalam waktu-waktu yang panjang menanti Kristus ini, Tuhan menunjukkan anugerah-Nya kepada kita dengan terus menopang kehidupan manusia, baik melalui pemeliharaan, kasih, dan penebusan-Nya bagi umat manusia.

Menanti

Tentu tidak semua keadaan harus “slow,” sebab Tuhan juga bisa bertindak dalam waktu yang cepat sesuai dengan hikmat-Nya yang tak terselami. Namun, sepertinya kita harus mengakui bahwa dalam banyak kesempatan, Allah bekerja dalam proses yang panjang.

Proses yang membutuhkan waktu yang lama. Termasuk dalam kehidupan kita, sepertinya lebih banyak proses panjang dibandingkan hal yang instan kan ya? Setidaknya di dalam kehidupanku, Tuhan lebih banyak bekerja dalam proses yang panjang.

Dalam refleksiku tentang “slow grace,” aku mendapat kesimpulan bahwa Tuhan ingin manusia menghargai waktu yang ada lewat kebergantungan penuh pada-Nya. Mengisi hari demi hari dalam kebergantungan penuh kepada Tuhan adalah makna dari “slow grace” tersebut. Jika waktu yang diberikan cepat (fast grace), maka sepertinya manusia akan sulit menghargai waktu tersebut.

Ada kalanya waktu lama untuk menanti pasangan hidup, kehadiran anak di dalam keluarga, keluar dari resesi ekonomi, atau belajar memahami pelajaran di kampus. Tentu, semuanya adalah anugerah dan hak Allah untuk memberikan atau tidak memberikannya kepada orang percaya. 

Namun, yang perlu diingat bahwa tidak semua hal harus cepat terlaksana di dunia ini. Setidaknya untuk beberapa hal di dunia ini, perlu banyak waktu untuk terealisasi. Waktu inilah yang perlu dimaknai dengan serius oleh orang percaya. Apakah bergantung penuh pada waktu-Nya yang terbaik atau mengeluh?

Memaknai

Jujur, menghargai proses hidup dalam waktu yang panjang seringkali membuat frustrasi. Ada banyak hal yang aku doakan tetapi sepertinya tidak kunjung-kunjung dikabulkan oleh Tuhan. Namun, mungkinkah ini cara Tuhan untuk memprosesku untuk menanti dan sabar dalam pergumulan doaku? Lalu, melalui kesabaran tersebut aku makin dapat bergantung kepada-Nya?

Bagi kamu yang lagi kuliah sekarang, mau ngga menghargai proses Tuhan? Mungkin kalian berpikir, “Kok susah banget ya paham pelajaran kuliah? Kok aku lama banget paham ya?” Jangan-jangan kesulitan kalian memahami materi kuliah adalah cara Tuhan menyatakan “grace” dalam waktu yang “slow” tersebut. Coba kalian renungkan.

Waktu tidak akan terpisahkan dari kehidupan orang percaya. Walaupun demikian, “grace” tidak akan pernah luput dari orang percaya. Hanya saja, Allah menyatakannya seringkali melalui waktu yang panjang, “slow grace.” Dia ingin kita belajar menanti dengan setia di tengah waktu-waktu yang panjang ini. 

Ingat, waktu yang panjang tidak meniadakan “grace” itu sendiri. Malah, waktu-waktu yang panjang ini semakin memperkaya keindahan anugerah Allah yang dilimpahkan-Nya bagi kita.

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Cho
Cho
7 months ago

Thank you Bima untuk tulisannya yg membuat memikirkan ulang tentang anugerah Tuhan dalam proses dan waktu yang terus berjalan.