Rina dan Cermin Rias Kesayangannya

Terlalu gagal tapi terlalu dikasihi
Mulai

Rina memiliki cermin rias kesayangan. Tidak sehari pun dia melewatkan untuk menatap cermin riasnya ini. Tujuannya sederhana, untuk melihat apakah wajahnya sudah siap untuk memulai hari atau belum. Tentu, aneka macam skincare juga sudah berjejeran di meja riasnya. Mulai dari micellar water, toner, serum, mouisterizer, dan sunscreen. Belum lagi macam-macam masker, make up, dan skincare lainnya yang jika ditulis satu per satu agaknya tulisan ini tidak akan muat untuk menuliskannya. Sebagai seorang wanita yang beranjak dewasa, Rina merasa perlu menjaga penampilannya.

Suatu hari, Rina di tengah kesibukannya melupakan untuk menghampiri cermin riasnya. Bagaimana tidak, Rina tidur terlalu larut malam. Dia mengerjakan banyak tugas. Seperti yang kalian duga, dia terlambat bangun pagi. Rina terburu-buru berangkat ke kampus karena hari itu dia bangun jam 7.30. Sedangkan kelas paling awal dimulai 7.45. Rina hanya memikirkan untuk gosok gigi dan mengganti pakaian. Suatu kenyataan yang tidak pernah Rina pikirkan sebelumnya terjadi. Dia tidak melihat wajahnya di cermin rias kesayangannya.

Sesampainya di kelas, teman-temannya melihat seseorang yang begitu berbeda. Hampir-hampir mereka bertanya, “Kamu mahasiswa pindahan dari kampus mana?” Mereka begitu pangling melihat penampilan Rina hari itu. Seorang Rina yang terkenal dengan penampilan rapi, menarik, dan menawan, hari ini tampil sebaliknya. Rina berantakan, kurang menarik, dan tidak semenawan itu. Setidaknya beberapa teman dekatnya juga mengakui hal itu.

Melihat kenyataan ini, Rina keluar dari kelas dan mendapati dirinya seperti ada di tengah hujan yang tiada hentinya. Dia menangis. Untungnya, Rina tidak sendiri saat itu. Ani mengikuti Rina dari belakang, sembari berpikir hendak ke manakah Rina saat itu. Ketika Ani melihat bahwa Rina menangis, dia pun menghampiri Rina dan berkata, “Kamu mau cerita?” Rina mengiyakan tawaran Ani.

Rina mencurahkan isi hatinya kepada Ani. “Aku tidak pernah merasa segagal ini dalam hidup. Kenapa sih aku tidur terlalu larut malam saat itu? Kenapa aku bangun terlambat? Kenapa wajahku tidak sebaik itu tanpa semua skincare yang sudah aku pakai selama ini? Kenapa!” Ani terdiam mendengar kata-kata Rina. Tidak terlukiskan bagaimana Rina begitu sedih saat itu. Dunia seakan runtuh, hujan tiada henti, dan Rina terdiam di tengah-tengahnya tanpa ada arah untuk pulang. Rina begitu terpukul, tanpa harapan.

Ani menjawab, “Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan betapa tidak berharganya diri kita. Aku ingat cermin rias kesayanganmu itu. Bukankah cermin riasmu itu menunjukkan diri kita yang sebenarnya? Cermin rias itu menunjukkan bahwa kita butuh skincare untuk menjadikan diri kita menawan, bukan?” Rina terdiam mendengar jawaban Ani. Rina menjawab, “Cermin rias kesayanganku? Apa yang dia perbuat?” Ani memang teman dekat Rina sejak kecil. Dia paham betul apa yang menjadi kesayangan Rina. Hanya saja, Ani jauh lebih dewasa dalam melihat kenyataan, termasuk cermin rias kesayangan Rina ini.

“Cermin kesayanganmu itu menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Diri yang jelek, rusak, dan tidak berharga. Melihat kenyataan itu, kamu menjadikan skincare sebagai jawaban atas apa yang ditunjukkan oleh cermin riasmu itu. Pertanyaannya, apakah memang jawabannya adalah itu?” Ani membukakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya di dalam diri Rina. “Jika memang jawabannya adalah skincare, seharusnya kamu ngga akan merasa segagal ini sekarang.”

“Jika memang jawabannya adalah skincare, seharusnya kamu ngga akan merasa segagal ini sekarang.”

Ani kepada Rina

Berlebihan? Mungkin. Bagi sebagian orang, masalah tidak merias wajah bukan hal yang signifikan. Namun, tidak dapat dipungkiri ada bagian dalam kehidupan yang begitu kita pegang erat. Cara mengetahuinya bagaimana? Coba tanyakan kepada dirimu, apa sesuatu yang jika saat ini hilang akan membuatmu begitu sedih dan hancur? Pacar? Smartphone? Uang? Jawablah sendiri.

Cermin rias Rina menunjukkan realita manusia berdosa yang sebenarnya. Setiap kali kita menatap cermin, kita melihat gambaran manusia berdosa yang hidup di dunia. Rusak, gagal, dan ada di dalam penghakiman Allah (Rm. 3:23; Yoh. 3:18). Kita tidak sebaik itu. Kita terlalu gagal, terlalu hancur, terlalu tidak layak untuk dikasihi. Lalu, kita mencoba mencari “skincare-skincare” kita masing-masing. Entah pornografi, rokok, miras, seks bebas, kesombongan diri, pengakuan, pacar, dan masih banyak lagi sebagai jawaban kita atas masalah ini.

Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya pada kita, ketika kita masih berdosa. Roma 5:8 berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Kristus mengasihi kita, bahkan sebelum kita mengenal Dia. Sebelum kita sadar bahwa hanya Kristus jawaban atas masalah ini. Dia memulihkan gambar diri kita yang rusak. Kita dikasihi, tidak dihukum. Kita dibenarkan, tidak dinyatakan bersalah. Bukan karena kita layak mendapatkan itu semua atau Tuhan wajib mengasihi kita. Tidak! Namun, karena Dia mencintai kemuliaan-Nya, Dia mengasihi kita.

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Kamu salah satu orang bobrok itu? Datanglah kepada Kristus. Hanya Dia jawaban satu-satunya. Sejauh mana lagi kamu mau berlari dari Dia? Percayalah kepada Dia, satu-satunya Juruselamat dunia. Setelah itu, setiap kali kita bercermin coba bertanyalah, “Kok orang berdosa masih hidup ya? Oh iya, kan ada Kristus yang sayang sama aku.”

Tentang Penulis

Mau share konten ini?

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments