Tuhan tidak pernah tidak baik

Ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan
Mulai

Hari ini aku kehilangan orang yang aku cintai, sebagai rekan dan sahabat di dalam Tuhan. Kejadian ini begitu tiba-tiba terjadi sehingga aku terkejut. Sedih sekali menjalani kehidupan yang penuh air mata seperti ini. Kenapa sih ini semua harus terjadi? Terbesit di pikiranku, “Emang ga ada cara lain ya Tuhan? Inikah yang terbaik Tuhan?” Jangan-jangan Tuhan salah ya? Pikiranku mulai ke sana.

Kesedihan, kehilangan, kekuatiran, kegagalan, dan berbagai hal yang menyedihkan adalah hal yang wajar di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa ini. Bagiku, wajar saja kita mempertanyakan semua ini sebagai seorang percaya. Toh, kita masih manusia juga kan? Tidak sesuainya realita dengan keinginan bisa membuat seseorang berkata “Kok gini ya Tuhan?” Kita berpikir bahwa yang seharusnya terjadi adalah yang sesuai dengan kehendak kita.

Sayangnya, tidak semua yang terjadi sesuai dengan keinginan kita. Pertanyaan “Kok gini ya Tuhan?”  jika dibiarkan tanpa harapan yang benar akan berujung pada pernyataan yang lebih tegas dan tajam kepada Allah, “Engkau ngga baik Tuhan!” Namun, apa benar Tuhan pernah menjadi tidak baik?

Apakah Tuhan tidak baik?

Tuhan tidak pernah tidak baik. Ketika hal buruk terjadi atau ekspektasi kita tidak terlaksana, Tuhan tidak berhenti menjadi Tuhan yang baik. Lalu, jika Dia tetap baik, kok hidupku malah jadi begini? Well, kita bisa merefleksikan hal ini: Ketika Allah dirasa tidak baik, yang tidak baik itu Allah atau konsep kita tentang apa itu “baik” yang salah? 

Sebenarnya, ketika kita mempertanyakan kebaikan Allah, kita sedang berhadapan dengan dua definisi “baik” yang bertabrakan, yaitu definisi “baik” punya kita dan Allah. Pertanyaan selanjutnya, mana definisi yang benar dari apa itu “baik”? Punya kita atau punya Allah? Coba kita pikirkan.

Tuhan tidak pernah tidak baik Devotion – Bima Anugerah, Mahasiswa Teologi STT SAAT
Tuhan tetap baik, bahkan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencanaku

Definisi Allah tentang apa itu “baik” adalah benar dan seharusnya yang kita pegang. Nah, ketika kita mempertanyakan kebaikan Allah, kita perlu tanya balik kepada diri kita, “Emangnya definisi baikmu udah bener?” Kita perlu mempertanyakan definisi kebaikan kita, bukan punya Allah.

Kita-lah yang sering gagal paham tentang kebaikan di dalam hidup ini, merasa paling tahu mana yang baik dan tidak baik. Jika tidak segera diselesaikan, gagal paham ini kelak akan menghasilkan kekecewaan kepada Tuhan. Apalagi jika kita berhadapan dengan harapan yang tidak sesuai realita di dalam hidup ini.

Kecewa atau gagal paham?

Guys, pertanyakan terus definisi “baik” yang kita pegang, bukan mempertanyakan definisi “baik” dari Allah. Allah tidak pernah tidak baik, sebab Dia-lah kebaikan itu sendiri. Ibrani 13:8 mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak pernah berubah. Jika dulu Dia rela mati bagi orang berdosa seperti kita (Rm. 5:8), masa sih sekarang Dia jadi jahat?

Yesus dulu sudah begitu baik sama kita lewat kasih-Nya yang luar biasa, masa sih sekarang Dia jadi tidak baik? Ketika kita mempertanyakan apakah Allah itu baik atau tidak, kita sedang mempertanyakan pertanyaan yang salah karena yang seharusnya kita tanyakan adalah definisi kita tentang kebaikan, bukan punya Allah.

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Mungkin kita merasa Allah tidak baik karena hidup tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi kita. Namun, ingatlah kehidupan kita ada di tangan Allah yang berdaulat. Kita tidak perlu takut dengan hidup ini jika kita tahu bahwa yang memegang kehidupan adalah Allah yang baik. Kita perlu dan harus takut jika Allah yang pegang kendali hidup ini adalah Allah yang jahat. Syukurnya, Allah kita baik.

Hari ini kita bisa saja merasa tidak ada harapan dan tidak paham dengan rencana Allah, tapi aku percaya kelak kita bisa tahu bahwa kita nggak salah menaruh harap pada Allah yang baik ini, Yesus Kristus. Kita juga perlu ingat bahwa Tuhan punya pengetahuan yang lengkap, sempurna, dan tidak terbatas sehingga Dia benar-benar tahu mana yang baik bagi kita.

Terpanggil jadi hamba Tuhan? Cek videoku ini yuk!

Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun tidak ada harapan atau ekspektasi aku yang terwujud. Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun aku kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupku. Tuhan tidak pernah tidak baik, sekalipun aku tidak paham mengapa Dia berbuat demikian. Tuhan tidak pernah tidak baik, kiranya ini yang aku pegang sampai mati. Sekarang, apa definisi “baik”-mu? Aku harap kita bisa belajar menyamakan definisi “baik” kita dengan Tuhan. Baca juga tulisanku selanjutnya di seri ini, Tuhan Tidak Pernah Kurang Kerjaan – Bima Anugerah.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Ada satu video dari Pdt. Billy Kristanto yang menolong aku dalam menggumulkan pertanyaan ini. Klik link berikut > KENYATAAN HIDUP TIDAK SESUAI JANJI TUHAN <

Tentang Penulis

Mau share tulisan ini?

4.4 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Sebelum lanjut, aku pengen bilang kalo tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku sebelumnya, Tuhan Tidak Pernah Tidak Baik – Bima Anugerah, so temen-temen bisa cek juga tulisan sebelumnya […]